Berita

Foto/Net

Bisnis

Industri Baja Lokal Bakal Rugi Rp 52 T Per Tahun

Diserbu Produk Impor
SENIN, 18 SEPTEMBER 2017 | 10:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pelaku industri meminta pemerintah untuk ikut berperan aktif dalam menumbuhkan investasi guna memperbesar produksi baja lokal. Jika terus-terusan bergantung pada impor, industri baja lokal akan rugi Rp 52 triliun per tahun.

Standard & Certification Committee The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Basso Datu Makahanap mengungkapkan, kebutuhan baja pada 2020 bisa mencapai 20 juta ton per tahun. Menurutnya, hal itu bisa menguntungkan dan merugikan industri baja dalam negeri.

"Pilihan kita cuma dua agar 20 juta ton itu bisa terpenuhi. Mau investasi 10 miliar dolar AS (Rp 132 triliun) untuk 20 tahun atau rugi 4 miliar dolar AS (Rp 52 triliun) per tahun untuk belanja impor," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, pekan lalu.


Ia mengatakan, investasi baru sangat dibutuhkan industri baja domestik guna memperbesar produksi. "Untuk memenuhi ke­butuhan baja di masa yang akan datang dibutuhkan investasi yang relatif besar," ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya me­minta, pemerintah ikut berperan aktif dalam menumbuhkan in­vestasi. "Peran aktif pemerintah sangat dibutuhkan. Terutama dalam mempermudah investasi masuk lewat regulasi yang baik untuk investor," katanya.

Sepanjang tahun lalu kon­sumsi baja tercatat sebesar 12,7 juta ton. "Produsen dalam negeri hanya mampu memenuhi kebu­tuhan crude steel sebesar 6,8 juta ton, sehingga sisanya harus diimpor," tuturnya.

Menurutnya, konsumsi baja yang terus meningkat akan menjadikan Indonesia pasar yang menarik untuk investor. Selain itu, manfaat multiplier effect akan dirasakan semua stakeholder jika kebutuhan baja diisi oleh produsen lokal.

"Industri baja mempunyai multiplier effect yang besar sehingga bisa menambah peneri­maan negara juga. Kalau harus diisi oleh impor maka manfaat­nya akan diambil oleh negara eksportir," kata Basso.

Ia menambahkan, pembangu­nan infrastruktur oleh pemerin­tah akan menjadi potensi besar. Pasalnya, sektor konstruksi menjadi penyerap utama baja dengan persentase konsumsi sebesar 78 persen dibandingkan keseluruhan.

"Kunci utama industri baja na­sional adalah sektor konstruksi, sebaliknya sektor kontruksi tidak akan bisa bergerak tanpa baja karena baja merupakan komponen utama konstruksi," tukasnya.

Direktur Eksekutif IISIA Hi­dayat Triseputro mengatakan, pemerintah perlu menyusun regulasi kriteria investasi agar investor tertarik menanam­kan modalnya di Indonesia. "Regulasi ini juga dibutuhkan untuk mengerem teknologi baja yang tidak ramah lingkungan," ujarnya.

Ia menegaskan, dukungan pemerintah yang saat ini di­tunggu industri baja adalah penyelesaian masalah impor. "Kami harap pemerintah untuk melakukan pengetatan impor dari produk baja unfair, circum­vention, pelarian HS Number (kode kepabeanan), dan non Standar Nasional Indonesia (SNI)," ujarnya.

Ia mengakui, kapasitas produksi pabrikan baja dalam negeri memang belum mampu memenuhi permintaan. Hanya saja, dalam praktiknya banyak importir yang memanfaatkan pelarian HS number. "Importir baja memanfaatkan bebas pen­genaan bea masuk baja paduan untuk mengimpor baja karbon," ungkapnya.

Ia mengatakan, harmonisasi tarif dari hulu ke hilir juga dinanti industri baja dalam negeri. "Pengenaan tarif yang hanya ditujukan kepada produk hulu membuat pasar domestik dipenuhi produk hilir impor," kata Hidayat.

Ia menambahkan, produksi baja dalam negeri juga masih dibebani oleh harga gas dan ongkos logistik yang belum kompetitif. Sehingga harganya pun masih kalah saing dengan produk impor yang lebih murah. "Selain itu, komitmen penerapan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk proyek pemer­intah dan regulasi bahan baku peleburan baja harus dimatang­kan," tukasnya.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elek­tronika Kemenperin IGusti Putu Suryawirawan mengatakan, proyeksi rata-rata pertumbuhan kebutuhan baja domestik sebesar 8,3 persen selama 2016 hingga 2021 menjadi peluang bagi para investor. "Investasi industri baja Indonesia masih menjanjikan," ujarnya.

Ia mengatakan, masifnya pembangunan infrastruktur yang sedang dilakukan pemerintah bisa menjadi angin segar untuk industri baja domestik. "Ini pe­luang bagus untuk industri baja nasional," katanya.

Dalam Rencana Induk Pem­bangunan Industri Nasional (RIPIN), pemerintah menarget­kan kapasitas produksi crude steel nasional mencapai 12 juta ton per tahun pada 2019 yang kemudian meningkat menjadi 17 juta ton per tahun pada 2024. Pada 2035 kapasitas produksi ditargetkan sebesar 25 juta ton per tahun.  ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya