Berita

Politik

Pembubaran Diskusi LBH Bentuk Arogansi Rezim Jokowi

SENIN, 18 SEPTEMBER 2017 | 07:14 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pembubaran diskusi Sejarah 1965 dengan tema "Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/66" Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta oleh polisi, Sabtu (116/9), merupakan salah satu bentuk arogansi dan otoriter rezim Presiden Jokowi.

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif Nasionalis Institute, Andy William Sinaga kepada redaksi, Senin (18/9).

Andy mengecam keras pembubaran kegiatan ilmiah tersebut, yang terjadi pada rezim yang digadang-gadang sebagai rezim yang demokrasi dan menghormati HAM.


Menurutnya, indeks HAM Indonesia di bawah Presiden Jokowi terancam akan terdegradasi, karena hak menyampaikan pendapat dan berkumpul telah diakui dalam Pasal 28 ayat 3 UUD 1945, dan Pasal 18 dan 19 UU 39/1999 tentang HAM.

Selain itu, lanjut Andy, seminar yang digagas oleh para aktivis di LBH Jakarta tersebut sifatnya ilmiah dalam mengkaji, mendalami dan mendiskusi kan tentang kasus 1965 dari sisi ilmiah dan sejarah.

"Kegiatan tersebut hendaknya tidak perlu ditakuti dan dikhawatirkan oleh pemerintah karena yang menghadiri diskusi adalah kaum intelektualitas, dan tidak ada hubungannya dengan kebangkitan komunis," ucapnya.

Apalagi, lanjut Andy, dalam Nawacita Presiden Jokowi digariskan tentang bagaimana negara hadir dalam situasi hak asasi warga negara terancam.

"Dan pembubaran seminar 65 di LBH adalah bukti bahwa HAM warga negara terancam terutama dalam menyampaikan pendapat, pikiran dan berkumpul sebagaimana yang telah diatur oleh UUD 1945 dan UU 39/1999," pungkasnya. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya