Berita

RMOL

Nusantara

Banyak Potensi Kecurangan Dalam Pelaksanaan JKN

KAMIS, 14 SEPTEMBER 2017 | 17:47 WIB | LAPORAN:

Indonesia Coruptions Watch (ICW) bersama 14 jaringan organisasi masyarakat sipil melakukan pemantauan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di sejumlah rumah sakit, klinik, dan Puskesmas.

Terkait meninggalnya bayi Tiara Debora Simanjarong lantaran terlambat mendapat penanganan medis di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres karena pihak Rumah Sakit tidak bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)  

"Dari hasil pantauan di 15 daerah kami masih menemukan potensi kecurangan di pelaksanaan JKN, baik di tingkat Puskesmas, RS umum daerah maupun RS swasta," beber peneliti ICW Siti Juliantari dalam jumpa pers di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (14/9).


Pemantauan dilakukan periode Maret-Agustus 2017 dengan menggunakan indentifikasi melalui pelayanan dari pasien JKN maupun BPJS. Hasil pemantauan diketahui terdapat 49 kecurangan dalam pelaksanaan program JKN.

"Ada 49 potensi fraud (kecurangan) yang terjadi di fasilitas kesehatan, baik yang dilakukan oleh peserta fasilitas kesehatannya sendiri baik di tingkat Puskesmas maupun di RS," ujar Tari.

Tari melanjutkan, potensi fraud yang perlu diperhatikan adalah terkait pembayaran k‎laim tagihan rumah sakit pada BPJS Kesehatan. Pembayaran berpotensi tinggi karena verifikasi klaim dinilai masih ‎memiliki celah terjadinya kecurangan.

"Kecurangan itu misalnya terjadi pada sisi konsumsi obat, frekuensi tindakan medis atau penggunaan alkes pada dokumen klaim rumah sakit," paparnya.

Ditambahkan Tari, meski terdapat tanda tangan pasien pada lembar tagihan rumah sakit namun verifikator BPJS Kesehatan tidak memverifikasi klaim yang diajukan rumah sakit pada pasien. Hal itulah yang akan menjadi peluang bagi rumah sakit untuk mark up‎ konsumsi obat dan alkes serta tindakan medis.

‎Pemantauan sendiri dilakukan di 14 Provinsi yakni ‎Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Kemudian Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. [wah]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya