Berita

Agun Gunanjar/net

Politik

Ketua Pansus: Dulu Saya Dibully, Sekarang KPK Mau Jadi Pahlawan

KAMIS, 14 SEPTEMBER 2017 | 16:55 WIB | LAPORAN:

Panitia Khusus DPR RI untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansus KPK) mengingatkan kembali salah satu tugas KPK adalah mengembalikan uang negara dari tangan koruptor.

Ironisnya, ia mengakui selama ini melihat porsi besar kerja KPK hanya berkutat pada pembangunan opini publik lewat media massa.

"Pekerjaan KPK seharusnya mengembalikan uang negara sebesar-besarnya, bukan sekadar membangun opini publik" ujar Ketua Pansus KPK, Agun Gunanjar Sudarsa, di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Kamis (14/9).


Agun menyebut KPK sangat cerdik membangun opini publik lewat drama-darama pemberitaan. Ia memberi contoh. Ketika dia menjabat Ketua Komisi II DPR RI, salah satu pekerjaan besarnya adalah merevisi UU Partai Politik. Saat itu ada poin dalam revisi yang memberi kewajiban pada negara untuk memberikan dukungan anggaran pada partai politik.

"Saya kan orang yang paling keras (menyuarakan revisi), tetapi saya kan juga sering di-bully, dianggap untuk apa partai politik dikasih uang. Nah, waktu itu yang paling keras menolak adalah KPK," jelasnya.

Kenyataan begitu berbeda sekarang. Menurut dia, saat ini KPK seolah ingin menjadi pahlawan dengan mengatakan kenaikan dana bantuan partai politik seharusnya naik menjadi Rp 10 ribu per satu suara sah, bukan Rp 1000 per suara sah seperti diputuskan Menteri Keuangan.

"Ya, saya kaget saja. Kenapa dulu saya di-bully, kok sekarang berlomba jadi pahlawan?" ungkap politisi Golkar itu.

Kemarin, Deputi Pencegahan KPK, Pahala Nainggolan, mengatakan, besar dana bantuan untuk partai politik (parpol) idealnya Rp 10 ribu per satu suara sah. Hal itu agar parpol sehat dan mampu membiayai kegiatan politik dan pendidikan politik kepada kader dan masyarakat.

Baru-baru ini, pemerintah menyepakati besaran dana bantuan parpol sebesar Rp 1000 per satu suara sah, naik dari sebelumnya yakni Rp 108 tiap satu suara sah. [ald]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya