Berita

Foto/Net

Bisnis

Masih Ada Peluang Target Pertumbuhan Ekonomi Tercapai

Kinerja Industri Melambat
SENIN, 11 SEPTEMBER 2017 | 09:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengaku sudah memprediksi pemerintah akan menurunkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini.

"Konsumsi mengalami penu­runan, neraca perdagangan awalnya surplus kembali de­fisit pada bulan Juli, industri pengolahan tumbuh melambat pada triwulan kedua, dan per­tumbuhan realisasi investasi yang masih di bawah ekspek­tasi. Kondisi itu membuat kami yakin pemerintah akan menu­runkan target," kata Bhima kepada Rakyat Merdeka, baru-baru ini.

Namun demikian, menurut Bhima, pemerintah masih punya banyak cara mencapai target pertumbuhan ekonomi. Setidaknya ada empat hal yang bisa dilakukan.


Pertama, menjaga daya beli masyarakat. Dia menyarankan pemerintah memaksimakan penyerapan bantuan sosial. Selain itu, tidak membuat kebijakan pajak yang agresif kepada wajib pajak kecil.

Kedua, menciptakan iklim usaha yang nyaman sehingga bisa mendongkrak kinerja sektor bisnis. Hal ini tentu bisa terwujud bila pemerintah meningkatkan komunikasi dengan pelaku usaha untuk menge­tahui kebutuhan-kebutuhan dunia usaha.

Ketiga, menggenjot realisasi investasi. Untuk mendorongnya, Pemerintah harus bisa cepat memperbaiki proses perizinan dan gencar promosi di luar negeri. Dan, keempat, memanfaatkan kenaikan harga komoditas, seperti minyak sawit (crude palm oil/CPO) dan batu bara.

"Kenaikan harga komoditas merupakan momentum untuk mengerek kinerja ekspor. Ini bisa dilakukan dengan mencari pasar alternatif untuk memper­luas pasar,"  katanya.

Seperti diketahui, belum lama ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indra­wati menyebutkan, sampai akhir tahun, pertumbuhan ekonomi pada tahun ini hanya sampai 5,17 persen.

"Dalam prognosis 2 kuartal ke depan, dari Kementerian Keuangan kita melihat down­side dan upside yang optimis­tis 2017 kita mendekat 5,17 persen sampai akhir tahun," ujarnya.

Meskipun diturunkan, lan­jutnya, tidak mudah menca­painya. Ada beberapa catatan yang harus dicapai. Antara lain, konsumsi rumah tangga di semester II harus mencapai 5 persen.

Menurutnya, daya beli masyarakat sejauh ini da­lam kondisi stabil. Dan tidak mengalami kontraksi seperti yang disebut-sebut berbagai kalangan. Sampai saat ini, dia yakin, konsumsi rumah tangga masih cukup mampu mening­katkan ekonomi.

Selain konsumsi rumah tangga, Sri Mulyani menyebutkan, kontribusi investasi sepanjang 2017 harus mencapai 5,2 persen.

Untuk mencapai level tersebut, lanjutnya, kontribusi investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang semester II harus 5,4 persen. Hal itu dikarenakan pada semester I hanya 5,1 persen.

Meski begitu, bekas direk­tur pelaksana Bank Dunia ini mengakui kontribusi dari sektor investasi sangat berat. Apalagi menurut data perbankan penyaluran kredit untuk dunia usaha diperkirakan melambat tahun ini. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya