Berita

Net

Jaya Suprana

Hikmah Di Balik Musibah Mosul

JUMAT, 08 SEPTEMBER 2017 | 16:12 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MEREKA yang menamakan diri sebagai ISIS telah berhasil membumihanguskan Mosul, Irak yang kaya raya dengan peninggalan-peninggalan sejarah. Ternyata di balik musibah Mosul hadir hikmah arkeologis.

Masjid Nabi Yunus
ISIS ganas menghancurkan Mosul sejak 2014. Selama tiga tahun, ISIS berhasil memusnahkan berbagai situs bersejarah termasuk museum arkeologi di Mosul yang tiada dua di planet bumi ini. Berkat keterkaitan dengan peradaban Nainuwa alias Ninive, maka Mosul merupakan lokasi penting bagi Yahudi, Nasrani dan Islam. Nabi Jonah menurut Alkitab atau Nabi Yunus menurut Al-Quran telah menunaikan tugas berkotbah di kawasan yang di masa kini disebut sebagai Mosul. Di atas bebukitan di sekitar Nainuwa, berdiri sebuah masjid di mana diyakini Nabi Yunus dimakamkan.  

ISIS menganggap masjid tersebut memberhalakan Nabi Yunus maka mereka menghancurleburkan masjid Nabi Yunus pada bulan Juli 2014. Situs bersejarah penting lainnya seperti masjid Nabi Jirjis yang disebut kaum Nasrani sebagai Santo George juga dihancur-leburkan oleh ISIS. Setelah bagian timur Mosul berhasil direbut kembali oleh angkatan bersenjata Irak yang didukung Amerika Serikat pada tahun 2017 maka para arkeologis segera menginvestarisir reruntuhan situs-situs religius Mosul. Di tengah reruntuhan masjid Nabi Yunus, para arkeologis menemukan sebuah terowongan yang digali oleh ISIS.

ISIS menganggap masjid tersebut memberhalakan Nabi Yunus maka mereka menghancurleburkan masjid Nabi Yunus pada bulan Juli 2014. Situs bersejarah penting lainnya seperti masjid Nabi Jirjis yang disebut kaum Nasrani sebagai Santo George juga dihancur-leburkan oleh ISIS. Setelah bagian timur Mosul berhasil direbut kembali oleh angkatan bersenjata Irak yang didukung Amerika Serikat pada tahun 2017 maka para arkeologis segera menginvestarisir reruntuhan situs-situs religius Mosul. Di tengah reruntuhan masjid Nabi Yunus, para arkeologis menemukan sebuah terowongan yang digali oleh ISIS.

Istana Asiria
Di dalam terowongan ISIS ditemukan reruntuhan bekas istana purba kerajaan Asiria yang sebelumnya belum terdeteksi oleh para arkeolog. Meski dalam kondisi rusak parah pula namun puing-puing artefak purba ini sangat menantang untuk diteliti lebih mendalam oleh para arkeolog. Istana kerajaan Asiria yang ditemukan di dalam terowongan yang dibangun ISIS di bawah kawasan reruntuhan masjid Nabi Yunus diduga berasal dari masa akhir abad ke delapan dan awal abad ke tujuh sebelum Masehi. Dari hasil penelitian awal, para arkeologis menyimpulkan bahwa istana purba tersebut dibangun oleh Raja Sennacherib yang berkuasa sekitar 704 sd 681 Sebelum Masehi yang memaklumatkan Ninive sebagai ibukota kerajaan Asiria. Raja Sennacherib sempat disebut di dalam Kitab Raja-Raja di dalam Alkitab pernah menyerbu Yerusalem. Tim arkeolog menyayangkan bahwa ISIS telah sempat banyak menjarah benda-benda bersejarah dari istana kerajaan Asiria tersebut dan menjualnya ke pasar gelap demi membiayai aksi militer ISIS. Meski demikian masih tersisa cukup banyak artifak penting untuk dipelajari oleh para arkeolog yang antara lain menemukan sebuah prasasti marmer dari putera Raja Sennacherib, Esarhaddon yang berjasa memperluas kawasan istana pada masa kepemerintahan dirinya serta membangun kembali Baylon pada pertengahan abad 6 sebelum masehi bahkan memperluas jangkauan kekuasaan Asiria sampai ke Mesir.

UNESCO
Di dalam terowongan sepanjang nyaris dua kilometer itu, ditemukan pula sebuah relief langka yang menampilkan sosok dewi Asiria memercik air kehidupan bagi umat pemuja sang dewi. Menurut profesor Eleanor Robson dari British Institute Untuk Studi Irak, relief dewi Asiria itu berada di kawasan istana yang khusus diperuntukkan untuk kaum perempuan. Penemuan reruntuhan istana Asiria di dalam terowongan yang dibangun ISIS telah sangat menarik perhatian UNESCO sebagai lembaga kebudayaan PBB. UNESCO telah resmi menyatakan siap mendukung teknis operasional mau pun pembiayaan penelitian secara lebih intensif demi memperlengkap perbendaharaan sejarah peradaban umat manusia di planet bumi ini. [***]

Penulis adalah pembelajar sejarah peradaban umat manusia

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Pimpinan Baru OJK Perlu Perkuat Pengawasan Fintech Syariah

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:25

Barang Ilegal Lolos Lewat Blueray Cargo, Begini Alurnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:59

Legitimasi Adies Kadir sebagai Hakim MK Tidak Bisa Diganggu Gugat

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:36

Uang Dolar Hingga Emas Disita KPK dari OTT Pejabat Bea Cukai

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:18

Pemda Harus Gencar Sosialisasi Beasiswa Otsus untuk Anak Muda Papua

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:50

KPK Ultimatum Pemilik Blueray Cargo John Field Serahkan Diri

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:28

Ini Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:08

KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Pejabat Bea Cukai, 1 Masih Buron

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:45

Pengamat: Wibawa Negara Lahir dari Ketenangan Pemimpin

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:24

Selengkapnya