Berita

Pabrik Arkema/net

Dunia

Ledakan Pabrik Kimia Menambah Sengsara Korban Harvey

JUMAT, 01 SEPTEMBER 2017 | 07:30 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Serangkaian ledakan di pabrik kimia yang rusak akibat banjir di Texas, menjadi bahaya terbaru terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat korban badai Harvey.

Kompleks petrokimia terbesar di wilayah Crosby dimiliki oleh perusahaan kimia Prancis, Arkema. Ledakan terjadi Kamis (31/8) waktu setempat saat Houston memulai pemulihan pasca Badai Harvey. Demikian The New York Times melaporkan.

Ledakan di pabrik tersebut muncul setelah sistem kelistrikan dan tenaga utama gagal sehingga memotong sistem pendinginan. Setelah ledakan, penduduk terdekat dari kompleks tersebut langsung dievakuasi. Namun, 15 petugas keamanan dirawat di rumah sakit setelah menghirup asap dari api kimia yang mengikuti ledakan tersebut.


Pabrik Arkema telah diidentifikasi sebagai salah satu ancaman yang paling berbahaya pasca badai. Ini menambah parah situasi kerusakan sistemik sistem saluran air dan selokan di Houston dan tempat lain di wilayah yang dilanda badai.

Pekan lalu, dengan perkiraan badai yang mendekat, para eksekutif di Arkema memutuskan untuk mematikan pabrik di Crosby, sekitar 30 mil timur laut Houston, sebagai tindakan pencegahan. Banjir yang disebabkan oleh curah hujan deras akhir pekan itu membuat aliran listrik terputus ke pabrik, generator cadangan juga tergenang.

Pabrik ini memang menghasilkan bahan kimia yang harus dijaga tetap dingin agar tetap stabil dan tidak mudah meledak. Dengan peralatan pendingin yang tidak berfungsi, gudang penyimpanan dingin yang menahan bahan kimia mulai menghangat.

"Pastinya kami tidak mengantisipasi adanya enam kaki air di pabrik kami," kata seorang eksekutif Arkema, Richard Rennard, dalam sebuah konferensi pers pada hari Kamis.

Profesor teknik kimia di Texas A & M University, M. Sam Mannan, menyebut pabrik Arkema sebagai salah satu yang paling berbahaya di negara bagian tersebut. Dia mengaku dapat mengerti mengapa pejabat perusahaan tidak meramalkan banjir ekstrim itu.

"Namun, bahaya bahan kimia yang mereka hasilkan seharusnya mendorong mereka untuk merencanakan yang terburuk," katanya. [ald]


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah jadi 53 Orang, 135 Warga Luka-Luka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:27

Rusak Berat Diguncang Gempa, Hotel Jayakarta Suites Komodo Flores Tutup Sementara

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:43

SBY Minta Maaf

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:15

Tembus Jalur Laut, Bantuan Gempa M 7,7 Disalurkan ke Pulau Palue Sikka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:47

Polri Terbangkan 10 Anjing K9 untuk Cari Korban Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:12

3,4 Ton Logistik untuk NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:50

Reza Aulia Diberhentikan, Kursi Direktur Niaga Garuda Kosong

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:40

Kemendikdasmen Jangan Lamban Merespons Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:04

Retorika Janji Kemerdekaan

Minggu, 16 Agustus 2026 | 16:35

Jalur Alternatif Darat Penghubung Ende-Nagekeo Masih Terputus

Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:33

Selengkapnya