Berita

Foto/Net

Bisnis

Organda: Putusan MA Cuma Bikin Marak Angkutan Ilegal

14 Pasal Aturan Taksi Online Dibatalkan
KAMIS, 24 AGUSTUS 2017 | 08:45 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) mengaku kecewa dengan putusan Mahkamah Agung (MA) yang membatalkan 14 pasal yang mengatur tentang transportasi online. Putusan tersebut bakal memicu maraknya angkutan ilegal.
Ketua Umum Organda Adri­anto Djokosoetono menga­takan, pihakny masih mengkaji keputusan MA yang mencabut sejumlah pasal dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyeleng­garaan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek. "DPP (De­wan Pimpinan Pusat) Organda masih mempelajari keputusan MA tersebut," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Ketua Organda DKI Shafru­han Sinungan mengaku kecewa dengan putusan MA tersebut. Sebab, keputusan itu justru akan semakin meningkatkan jumlah angkutan online ilegal. Dampak­nya, tentu akan dirasakan oleh angkutan resmi.

"Buat kami putusan ini menim­bulkan keprihatinan," ujarnya ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

"Buat kami putusan ini menim­bulkan keprihatinan," ujarnya ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut dia, ada beberapa hal yang membuat Organda prihatin atas putusan MA tersebut. Sebab, MA mencabut pasal-pasal utama, mulai dari pasal penyelenggara angkutan online harus berbadan hukum, pengaturan tarif, dan kuota angkutan online.

"Kasihan kendaraan online yang sudah memiliki izin. Se­mentara yang belum akan men­jadi angkutan liar dan ilegal. Ini yang membahayakan," katanya.

Padahal, kata dia, sebelumnya Organda mengapresiasi keluarnya Permenhub 26 karena bisa men­gurangi jumlah angkutan online ilegal. Sebab, dengan maraknya angkutan online ilegal berdampak pada banyaknya koperasi angku­tan resmi yang gulung tikar.

"90 persen pengusaha ang­kutan resmi di Indonesia ben­tuknya koperasi. Dan Koperasi itu bagian dari usaha kecil dan menengah," tambah Shafruhun.

Seharusnya, menurut dia, MA tidak membatalkan pasal-pasal yang tidak bertentangan dan sudah diatur dalam Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Lalu Lintas Dan Ang­kutan Jalan. "Kalau belum diatur dan bertentangn dengan undang-undang tidak masalah dicabut. Kalau sesuai undang-undang jangan," tuturnya.

Dia menambahkan, dalam waktu dekat Organda akan mem­berikan kajian dan masukan terkait dengan putusan MA membatalkan sejumlah pasal dalam Permenhub 26.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta Organda tidak mengambil sikap tertentu setelah MA mencabut sejumlah pasal di Permenhub 26. Apalagi, Permenhub Nomor 26 Tahun 2017, masih berlaku hingga tiga bulan ke depan.

Untuk diketahui, sebelumnya MA mengabulkan uji materi yang diajukan enam driver taksi online terhadap sejumlah pasal dalam Permenhub 26. Dalam putusannya, lembaga peradilan tersebut memer­intahkan Menhub untuk mencabut sejumlah ketentuan yang tercantum dalam Permenhub 26.

Alasannya, beberapa ketentuan dalam Permenhub bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang tentang Usaha Kecil, Mikro, dan Me­nengah serta Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). MA juga menilai keten­tuan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Keputusan itu sendiri diambil dalam rapat permusyawaratan MA pada 20 Juni 2017.

"Mengabulkan permohonan keberatan hak uji materil dari para pemohon Sutarno, Endru Valianto Nugroho, Lie Herman Susanto, Iwanto, Johanes Bayu Sarwo Aji, dan Antonius Handoyo," demiki­an putusan MA itu seperti dikutip laman putusan Mahkamahagung. go.id, kemarin.

Dalam putusannya, MA mem­batalkan, Pasal 5 ayat 1 huruf e, pasal 19 ayat 2 huuruf f dan ayat 3 huruf e, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 27 huruf a, Pasal 30 huruf b, Pasal 35 ayat 9 huruf a angka 2 dan ayat 10 huruf a angka 3, pasal 36 ayat 4 huruf c, Pasal 37 ayat 4 huruf c, Pasal 38 ayat 9 huruf a angka 2 dan Pasal 44 ayat 10 huruf a angka 2 dan ayat 11 huruf a angka 2, Pasal 51 ayat 3, dan Pasal 66 ayat 4. Pasal-pasal tersebut antara lain mengatur soal penetapan tarif batas atas dan bawah atas usulan kepala daerah, badan hukum, syarat kendaraan, dan daerah operasional.  ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

UPDATE

KSP Kawal Pembangunan MRT Jakarta sebagai Proyek Strategis Nasional

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:24

BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:19

Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

PPKGBK Memverifikasi Penghuni Hotel Sultan Usai Eksekusi Pengosongan

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

Pemerintah Harus Benahi Kebijakan Domestik agar Investor Tak Kabur

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10

PKB Usul Ambang Batas Parlemen 5 Sampai 7 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:01

Disinggung Aliran Duit ke Gus Yaqut, Fuad Hasan: Bahaya Kamu!

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:57

UMKM Binaan Pertamina Gelar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:55

Rapimnas II di Banten, KAMMI Teguhkan Arah Gerakan Kebangsaan

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51

Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Formula Pasar

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:48

Selengkapnya