Berita

Erdogan/Net

Global

Erdogan Sebut Pemimpin Jerman Musuh, Berlin Geram

SABTU, 19 AGUSTUS 2017 | 15:52 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut politisi penguasa Jerman saat ini adalah musuh Turki.

"Kristen Demookrat (CDU), SPD (Partai Sosial Demokrat) dan Partai Hijau adalah musuh Turki," kata Erdogan merujuk pada nama-nama partai politik di Jerman.

Hal itu ia sampaikan kepada wartawan di Turki usai ibadah sholat Jumat kemarin, berkaitan dengan pemilu yang akan digelar di Jerman pada 24 September mendatang.


Dalam pemilu tersebut ada sekitar satu juta orang etnis Turki yang tinggal di Jerman yang dapat memilih. Mayoritas dari mereka mendukung Erdogan dalam sebuah referendum bulan April lalu.

"Berikan dukungan yang diperlukan kepada partai politik yang tidak terlibat dalam permusuhan melawan Turki," imbau Erdogan.

"Tidak penting apakah mereka adalah partai pertama atau kedua. Dengan cara ini adalah perjuangan untuk menghormati semua warga saya yang tinggal di Jerman," sambungnya seperti dimuat BBC.

Menanggapi pernyataan Erdogan itu, Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel geram. Ia menyebut bahwa komentar Erdogan adalah tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena dinilai telah mencampuri urusan kedaulatan Jerman.

Erdogan telah mengecam Jerman sebelumnya, namun kedua negara merupakan mitra dagang dan sekutu utama di NATO.

Dia sangat marah karena pemerintah Jerman menolak untuk membiarkan beberapa sekutunya berkampanye untuknya di Jerman sebelum pemungutan suara pada bulan April, yang membuka jalan baginya untuk mendapatkan kekuatan eksekutif baru. Penolakan itu, katanya, adalah perilaku "gaya Nazi".

Ketegangan meningkat setelah usaha kudeta yang gagal terhadap Erdogan pada bulan Juli 2016, dimana setidaknya 240 orang meninggal.

Presiden Erdogan menyalahkan jaringan ulama Fethullah Gulen yang berbasis di AS atas rencana kudeta tersebut, dan menuduh Jerman melindungi Gulenis. Padalah, Gulen sendiri telah berulang kali membantah tuduhan tersebut. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Fokusmaker Sentil Azis Narang: Jangan Jual SOKSI untuk Kepentingan Politik Pribadi

Sabtu, 07 November 2026 | 18:26

Airlangga Akui Kasus Penyadapan pada Presiden Ganggu Sentimen Investor

Sabtu, 07 November 2026 | 18:17

Bantah Terlibat Penyadapan Ilegal, Bahlil: Ini Ulah Abuleke

Sabtu, 07 November 2026 | 17:48

ARBI Bakal Gelar Aksi Akbar di Al-Azhar, Ini Lima Tuntutannya

Sabtu, 07 November 2026 | 17:40

HUT ke-73 KPU Dirayakan Sederhana, Refleksi Integritas Bareng Para Mantan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:45

Ketum Peradi Profesional: Advokat Bukan Pelengkap Peradilan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:08

Menimbang Perpres 107/2026 dan Dampaknya pada Kelancaran Pengadaan Energi

Sabtu, 07 November 2026 | 15:48

Tekanan Jual Mereda, Harga Bitcoin Menguat ke 75.928 Dolar AS

Sabtu, 07 November 2026 | 15:40

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

Sabtu, 07 November 2026 | 15:18

Pangdam XXII/Tambun Bungai Pimpin Pemulangan Jenazah Sertu Anumerta Heri Prasetyo ke Kediri

Sabtu, 07 November 2026 | 15:14

Selengkapnya