Berita

Yati Andriyani/Net

Wawancara

WAWANCARA

Yati Andriyani: Novel Hanya Mau Beberkan Nama Jenderal Kepada Tim Gabungan Pencari Fakta Saja

SABTU, 19 AGUSTUS 2017 | 09:25 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Koordinator Komisi un­tuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Yati Andriyani, ikut mendamp­ingi Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjadi korban tindak kekerasan penyiraman air keras, saat menjalani pemer­iksaan di Kantor Kedutaan Besar RIdi Singapura pada Senin, 14 Agustus 2017.

Pemeriksaan yang dilakukan Tim Polda Metro Jaya ber­langsung lancar, meski begitu, kata Yati, terdapat beberapa hal yang bisa saja dipermasalahkan Novel. Yang menarik dalam sesi pemeriksaan tersebut, kata Yati, Novel menolak mengungkap jenderal yang diduga terlibat dalam perencanaan serangan zat asam terhadapnya.

Novel hanya mau membuka nama sang jenderal kepada Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang anggotanya tak hanya gabungan dari KPK dan Kepolisian, tapi juga melibatkan unsur sipil lainnya. Berikut ket­erangan Yati Andriyani terkait jalannya pemeriksaan terhadap Novel;


Apa saja yang diungkapkan Novel dalam pemeriksaan di Singapura?
Kronologis yang dia alami saat 11 April itu, terjadinya penyerangan air keras yang dia alami, bagaimana dia menga­tasi untuk bisa bertahan saat itu. Kemudian juga beberapa informasi terkait adanya orang-orang yang diduga melakukan pengintaian sejak lama kepada Novel dan keluarga. Lalu Novel juga menyampaikan sejumlah kekecewaannya di akhir.

Apa saja kekecewaan yang dia sampaikan?

Pertama, beberapa saksi kunci dipublikasi oleh polisi, sehingga sejumlah mereka ketakutan. Kedua, penyidik terburu-buru membuat kesimpulan dan mem­publikasikan kesimpulan terse­but, sehingga terkesan menu­tupi pihak-pihak tertentu. Orang yang memata-matai Novel di depan rumahnya disebut sebagai mata elang (tidak ada kaitannya dengan kasus-red), sehingga tidak diperiksa secara menye­luruh. Padahal di antara ada orang yang berupaya masuk ke rumah Novel, dengan cara berpura-pura mau membeli gamis. Banyak orang di seki­tar lokasi justru beranggapan sebaliknya. Selanjutnya Novel juga kecewa dengan hilangnya sidik jari pada cangkir yang di­gunakan untuk menyiram Novel dengan air keras. Padahal itu bukti penting.

Kekecewaan Novel selanjut­nya apa?
Terakhir, Novel pernah diberitahu oleh anggota Densus 88 yang melakukan investigasi dan menemukan indikasi pelaku. Foto orang yang diduga pelaku tersebut dikirimkan ke­pada Novel, untuk kemudian dia kirimkan ke adiknya untuk diperlihatkan kepada orang di sekitar kejadian. Ketika adiknya bertanya kepada orang-orang di sekitar lokasi apakah mereka mengenali foto tersebut? Banyak yang mengaku mengenali orang dalam foto tersebut. Mereka juga mengaku yakin orang itu termasuk pelaku, entah sebagai pengintai atau eksekutor. Foto itu sudah Novel kirimkan kepada Kapolda Metro yang sebelum­nya dan Rudy (Dirkrimum Polda Metro Jaya-red). Kejadian seki­tar tanggal 19 April 2017. Tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut terhadap orang yang ada di foto itu.

Novel menolak membuka nama jenderal yang diduga jadi dalang kasusnya, kec­uali kepada TGPF. Kenapa begitu?
Betul, dan kami sangat men­dukung sekali dengan keputusan itu. Menurut kami dia sangat bijaksana dengan keputusan itu. Alasannya ada dua. Pertama untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan, karena kan yang menyelidiki kasus ini adalah Kepolisian. Alasan lainnya adalah karena dia tidak mau membebani penyidik un­tuk mengungkap siapa jenderal polisi itu. Novel ingin penyidik fokus saja menemukan pelaku penyiram air keras tersebut.

Memang apa sih kelebihan dari TPF dibanding penyidik Kepolisian, sehingga Novel ngotot hanya ingin memberi keterangan kepada TPF?

Kita tidak perlu memper­tentangkan antara TPF den­gan penyidik Polri. Penyidikan Polri jalan, ya jalan saja terus. TPF bisa memfasilitasi untuk menemukan atau menerima informasi-informasi terkait yang bisa saja nanti ditindaklan­juti untuk kepentingan seperti yang diprediksi oleh penyidik Kepolisian. Novel hanya mau memberikan informasi menge­nai nama jenderal tersebut mela­lui TPF, tidak kepada penyidik Kepolisian.

Di tim gabungan kan ada KPK yang sudah jelas berada di pihak Novel?
Coba tanya dulu ke KPK, apa betul ada tim gabungan Polri-KPK untuk mengusut kasus ini? Karena soal tim gabungan ini kan baru klaim dari pihak Polri. Teman-teman harus cross check langsung. Kalau memang ada, seperti apa kerjanya? Bagaimana kerjanya? Apakah mereka juga independen dan bekerja profe­sional? Itu kan enggak jelas juga sampai sekarang.

Menurut Polri, TPF kan tidak pro justisia makanya lebih baik tim gabungan?

TPF memang enggak harus pro justisia. Dia kan sifatnya mengumpulkan informasi dan fakta-fakta yang relevan. Nanti hasil TPF ini bisa saja didorong kepada penyidik untuk ditin­daklanjuti menggunakan meka­nisme pro justisia. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya