Berita

Politik

Demo Santri Sudah Sangat Keterlaluan, PKB Dan PBNU Diminta Stop Politisasi FDS

SENIN, 14 AGUSTUS 2017 | 10:09 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Sosiolog Musni Umar heran dengan adanya demonstrasi besar-besaran yang dimotori PBNU dan PKB terkait pelaksanaan sistem Full Day School (FDS) belajar. Karena menurutnya, soal FDS tersebut bukan sesuatu yang prinsip.

"Jadi nggak masuk akal (demo ini). Ini (FDS) bukan sesuatu yang prinsip, tidak fundamental. Kalau agama dihina, boleh lah (demo)," jelasnya saat dihubungi pagi ini.

Apalagi, dia menambahkan, Presiden Jokowi sendiri sudah menjelaskan bahwa tidak ada keharusan untuk melaksanakan FDS tersebut. Karena itu bagi yang mau dan sudah siap, silakan menjalankan. "Kan tak ada paksaan," ungkapnya.


Rektor Universitas Ibnu Choldun, Jakarta, ini semakin heran unjuk rasa tersebut melibatkan para santri. Apalagi belakangan, demo seperti yang terlihat dalam video yang viral, para santri sampai teriak-teriak bunuh, bunuh menteri.

"Saya sangat prihatin, dan menyayangkan sampai keluar kata-kata yang sangat provokatif. Ini sudah kriminal, sudah masuk ranah pidana. Karena mengancam membunuh," tegasnya.

Karena itu dia yakin ada kepentingan politik dibalik unjuk rasa tolak FDS tersebut. Terlebih keberadaan PKB dalam isu tersebut.

"Ini kepentingan politik. Semua kan sudah tahu, itu menterinya dari Muhammadiyah. Membuat dua kekuatan besar bangsa ini berhadapan-hadapan. Sehingga melupakan persoalan yang lebih krusial, kemisknan kesenjangan, ketidakadilan," tegasnya.

Apa kepentingan politik PKB?

"Kan ini menjelang Pilkada serentak, dan Pemilu 2019 sudah lama lagi. Ini bisa saja dimaknai (ada kepentingan politik)," ungkapnya.

Namun tidak mau lebih jauh membahas soal adanya kepentingan politik tersebut. Dia hanya mengimbau untuk saling menahan diri.

"Saya hanya ingatkan bangsa ini sangat rawan terharap masalah integrasi. Jangan sampai sesama kita diadu untuk kepentingan sekelompok orang tertentu. Yang rugi kita sendiri," tandasnya. [zul]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Tiga Tahun UU TPKS: DPR Soroti Masalah Penegakan Hukum dan Temuan Kasus di Lapas

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08

Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset Tindak Pidana

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48

Utang Luar Negeri Indonesia Kompak Menurun

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34

Giliran Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono Diperiksa KPK di Kasus OTT Bupati Bekasi

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19

Muncul Tudingan Pandji Antek Asing di Balik Kegaduhan Mens Rea

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04

Emas Antam Naik Terus, Tembus Rp2,67 Juta per Gram!

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54

KPK Tak Segan Tetapkan Heri Sudarmanto Tersangka TPPU

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43

TAUD Dampingi Aktivis Lingkungan Laporkan Dugaan Teror ke Bareskrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28

Istana Ungkap Pertemuan Prabowo dan Ribuan Guru Besar Berlangsung Tertutup

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27

Update Bursa: BEI Gembok Saham Tiga Saham Ini Akibat Lonjakan Harga

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17

Selengkapnya