Berita

Foto/Net

On The Spot

Ikan Teri Medan Naik 20 Ribu Per Kilogram

Imbas Tingginya Harga Garam
JUMAT, 11 AGUSTUS 2017 | 10:54 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Salah satu penyebab melambungnya harga garam adalah curah hujan yang cukup tinggi.Hal itu membuat sejumlah petambak garam mengalami gagal panen. Lonjakan harga garam juga berpengaruh pada kenaikan harga ikan asin dan ikan teri.

Tapi menurut Nana, salah seorang pedagang ikan asin dan teri di Pasar Jatinegara, hampir tidak ada kenaikan harga pada barang dagangannya. Perubahan harga, kata dia, hanya terjadi pada ikan teri jenis teri Medan yang dijualnya seharga Rp 120 ribu per kg, dari sebelumnya Rp 100 ribu per kg. Jadi, ada kenai­kan harga teri Medan Rp 20 ribu per kg di kiosnya.

Kemudian, ikan gabus kering dari Rp 100 ribu per kg menjadi Rp 120 per kg. "Memang ber­pengaruh harga garam naik, tapi tidak terlalu besar. Di saya, yang naik harga ikan teri Medan dan gabus. Naiknya pas mulai ramai-ramai garam naik, lupa persisnya kapan," ujar Nana.


Sedangkan ikan asin dan jenis teri lainnya, sambung Nana, tidak ada perubahan harga sama sekali. Selain itu, pasokan dari distributor juga tidak terganggu. "Belanjanya di Kapuk. Dari semua ikan asin sama teri yang saya jual, cuma teri Medan dan ikan gabus yang harganya naik," tandas Nana.

Sedangkan di Pasar Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, rata-rata pedagang menaikkan harga jual ikan asin. Rata-rata ke­naikannya Rp 2-3 ribu untuk setiap jenis ikan asin. Salah satu pedagang yang turut menaik­kan harga barang dagangannya, yakni Emi.

Pada Rabu siang (9/8), los tempat Emi berdagang di Blok D1, lantai dasar Pasar Pondok Gede sepi. Tak banyak kon­sumen yang mendatangi los wanita berjilbab tersebut. Di lapaknya yang berukuran 4x2 meter, Emi menjual beberapa jenis ikan asin dan ikan teri.

Ikan-ikan tersebut diletakkan di puluhan dus berukuran sedang yang memenuhi hampir seluruh los dagangannya. Hanya sedikit ruang dia sisakan untuk bergerak. Sedangkan di belakang­nya, terdapat rak untuk minyak goreng yang juga dijajakannya.

Hingga menjelang sore, konsumen yang datang ke los Emi bisa dihitung dengan jari. Konsumen pun hanya membeli ikan asin atau ikan teri dalam jumlah kecil. "Kalau di tempat saya, lebih banyak yang beli ikan teri," katanya saat ngobrol.

Sejak tingginya harga garam, lanjut Emi, harga ikan asin dan ikan teri pun ikut terkerek naik. Namun, dia baru-baru ini saja ikut menyesuaikan harga jual barang dagangannya.

"Naiknya tidak begitu tinggi.Saya ngambil barang buat stok dari distributor di Kapuk, Jakarta Barat. Paling naiknya sekitar Rp 3 ribu," terang Emi.

Kenaikan harga tersebut, sambungnya, berbeda-beda antara satu jenis ikan dengan yang lainnya. Dia mencontohkan, ikan asin sepat kecil, yang sebe­lumnya biasa dia beli di kisaran Rp 27-28 ribu per kilogram (kg), kini dibeli dengan harga Rp 30 ribu per kg.

"Itu pun sebenarnya kita su­dah nawar di sana. Dengan harga segitu, saya jual ke konsumen paling tinggi sekitar Rp 40 ribu. Kenapa saya jual segitu, karena bobot ikannya menyusut lumayan banyak setelah be­berapa hari. Kenaikan harganya tergantung kualitasnya juga," jelasnya.

Dia menambahkan, kenaikan itu pun terjadi sejak harga garam naik. Rata-rata kenaikan harga, jelas Emi, sekitar Rp 2-3 ribu. Tapi, ada satu hal yang jadi cata­tannya, sejak harga garam tinggi, rasa asin di ikan asin maupun ikan teri berkurang.

"Sejak garam susah itu, dibuatnya tidak terlalu asin sepertibiasanya. Kadarnya memang beda sekarang," ucap Emi.

Meski harga naik, Emi mengakutak mengurangi jumlah ikan asin maupun ikan teri yang dia beli dari pedagang besar di Kapuk. Katanya, dia tetap belanja seperi biasa, tergantung jumlah uang yang dimilikinya. Biasanya, Emi bersama suaminya belanja dua kali seminggu.

"Saya sengaja tidak sering belanja karena stok memang harus habis. Kalau tidak habis, misalnya dalam dua minggu, fisik ikannya berubah. Warnanya berubah jadi merah-merah gitu. Harganya pun turun drastis, jatuh banget," ucapnya.

Ibu tiga anak itu menambah­kan, meski ikan asin dan ikan teri yang dia jual mengalami ke­naikan harga, tidak berpengaruh terhadap pelanggan. Meski demikian, ada saja pelanggan yang protes karena harga dagangannya naik.

"Kalau cuma kenaikan se­gitu biasa saja. Pelanggan saya kebanyakan untuk jual lagi. Hitungan segitu murah. Tapi. kita mengharapnya turun, supaya banyak yang beli," tuturnya.

Lebih lanjut, Emi mengaku, belakangan penjualannya me­mang lesu. Dia bercerita, biasanya habis Lebaran, ikan asin laku dicari masyarakat. "Tapi, tiga tahun terakhir turun terus, apalagi tahun ini. Mungkin karenabareng sama tahun ajaran baru. Padahal, biasanya kita stok banyak buat Lebaran, akhirnya jadi tidak terjual," keluhnya.

Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Brahmantya Satyamurti Poerwadi, impor ga­ram dilakukan akibat terjadinya kelangkaan pasokan garam.

Hal itu dipicu cuaca yang tidak menentu. "Idealnya, garam dipanen 10 hari, agar kadar airnya cukup. Dengan kondisi tidak menentu seperti saat ini, garam sudah dipanen dalam waktu 3-5 hari," katanya.

Menurut Brahmantya, kondisi normal produksi garam per pe­riode setiap tahunnya adalah 2,5 juta ton. Sehingga, jika dibagi 12 bulan, petani idealnya bisa memproduksi garam sebanyak 166 ribu ton per bulan.

Dia menambahkan, catatan KKP dari Mei hingga Juli 2017, produksi garam nasional hanya 6.200 ton. Jumlah tersebut mero­sot tajam, dari biasanya panen per bulan dalam cuaca normal sebesar 166 ribu ton.

"Itu sangat jauh. Untuk garam rakyat saja," ujarnya. ***

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya