Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Kekerasan Oleh Manusia Terhadap Manusia

RABU, 09 AGUSTUS 2017 | 16:58 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

ISLAMOPHOBIA memicu berbagai anggapan negatif terhadap Islam. Akibat sejak abad XX negara-negara Timur Tengah senantiasa dalam suasana kemelut perpecah-belahan seperti yang terakhir terjadi pada kasus pengucilan Qatar maka memang timbul anggapan bahwa umat Islam sulit berdamai.

Fakta Sejarah

Anggapan negatif tersebut tidak adil berdasar fakta bahwa Perang Dunia I dan II dikobarkan oleh mayoritas negara dengan masyarakat mayoritas non Islam.  

Konflik Korea yang terpecah-belah menjadi Korut dan Korsel juga tidak dilakukan oleh masyarakat Islam. Kaum Rohingnya ditindas di Myanmar bukan oleh umat Islam malah sebaliknya umat Islam yang ditindas oleh masyarakat non Islam. Pembantaian terhadap penduduk asli Amerika Utara, Amerika Selatan dan Australia dilakukan oleh bukan umat Islam.

Konflik Korea yang terpecah-belah menjadi Korut dan Korsel juga tidak dilakukan oleh masyarakat Islam. Kaum Rohingnya ditindas di Myanmar bukan oleh umat Islam malah sebaliknya umat Islam yang ditindas oleh masyarakat non Islam. Pembantaian terhadap penduduk asli Amerika Utara, Amerika Selatan dan Australia dilakukan oleh bukan umat Islam.

Kaum penjajah seperti Belanda di Nusantara mau pun Spanyol di Filipina mencitrakan umat Islam sebagai teroris sebab pada kenyataan umat Islam di Nusantara dan Filipina memang senantiasa tidak sudi tunduk ditindas oleh kaum penjajah.

Sultan Agung mempelopori perlawanan terhadap kaum penjajah yang dilanjutkan oleh Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Tjut Nyak Dhien, sampai para santri Jawa Timur yang perkasa melawan tentara sekutu Belanda yang tidak sudi mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perlawanan terhadap kolonialisme Spanyol dan Amerika Serikat di Filipina gigih dilakukan oleh umat Islam. Inggeris paling kewalahan dalam melawan umat Islam di Afghanistan yang tidak sudi dijajah. Umat Islam sebagai korban angkara murka kolonialisme malah dihujat sebagai pemberontak.

Irlandia

Kesan bahwa masyarakat non-Islam selalu hidup dalam suasana damai digugurkan oleh sejarah Irlandia yang terpecah belah menjadi Irlandia Utara di bawah kekuasaan Inggeris serta Republik Irlandia berdasar perjanjian 29 Desember 1937 mengakui kemerdekaan Irlandia ditandatangani oleh pemimpin Irlandia Selatan dan pemerintah Britania Raya.

Dengan alasan tengah berlangsungnya Perang Dunia II, Inggris tidak mewujudkan isi perjanjian tersebut. Setelah perang berakhir, pada tahun 1949, rakyat Irlandia selatan yang mayoritas Katolik, memproklamirkan kemerdekaannya dari Britania Raya. Kemerdekaan berhasil dicapai setelah rakyat Irlandia selama delapan abad menjadi wilayah bagian dari Britania Raya. Mayoritas masyarakat Irlandia dan Inggeris sama-sama Nasrani.

Irlandia Utara

Yang naas adalah nasib masyarakat Nasrani yang bermukim di wilayah yang disebut sebagai Irlandia Utara yang sampai kini masih resmi masuk dalam wilayah Britania Raya.  Lebih dari 1700 warga Irlandia Utara jatuh sebagai korban nyawa akibat konflik  sesama umat kristiani berhadap-hadapan dalam konflik kekerasan.   

Konflik yang diawali dengan hari Minggu Berdarah pada tahun 1972 semakin meruncing akibat eksistensi kepentingan politik dan golongan yang berdiri di belakang perisai agama. Pada tahun 2011, kepolisian Irlandia Utara menyatakan puluhan orang menggunakan topeng mengerubungi jalanan di Short Strand, yang merupakan daerah warga Katolik di Belfast  melakukan serangan dengan bom molotov.  

Konflik berdarah di Irlandia Utara sejak dahulu telah terjadi antara kaum Ulyster didukung Protestan yang ingin bergabung dengan Inggris Raya melawan pihak IRA didukung Katolik yang menginginkan kemerdekaan Irlandia Utara. Konflik 2011 terjadi karena parade tahunan 12 Juli, di mana para demonstran yang tergabung dalam Orange Order diserbu.

Orange Order adalah organisasi persaudaraan bagi penganut  Protestan yang berbasis di Irlandia Utara dan Skotlandia. Nama Orange diambil dari nama William of Orange yang mengalahkan pasukan Katolik James II dalam Perang Boyne 1690.[***]


Penulis adalah pembelajar sejarah kekerasan manusia terhadap sesama manusia


Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

UPDATE

Kuota Internet Hangus Digugat ke Mahkamah Konstitusi

Jumat, 27 Februari 2026 | 00:01

Mantan Personel Militer Filipina Ungkap Skandal Politik Uang Pejabat Negara

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:56

Penanganan Kasus Lapangan Padel Jangan hanya Reaktif Usai Muncul Polemik

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:38

Legislator PKS Soroti Ketimpangan Politik Hukum Laut Nasional

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:22

PLN Enjiniring Raih Dua Penghargaan ITAY 2026

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:17

Tiga Syarat ‘State Capitalism’

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:04

CMNP Minta Sita Jaminan Rumah Hary Tanoe di Beverly Hills

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:47

IPK 2025 Anjlok ke 34, Rudy Darsono: Efek Jera Cuma Jualan Politik

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:37

Konektivitas Nasional di Daerah Bencana Pulih 100 Persen

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:32

BPKH Perkuat Sinergi Investasi Nasional dan Internasional Lewat Revisi UU

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:18

Selengkapnya