Berita

Dahnil Anzar

Politik

Makna Toleransi Sudah Dimonopoli Sesuai Selera Dan Kepentingan Politik

RABU, 09 AGUSTUS 2017 | 04:20 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kesadaran akan keberagaman dan hidup saling menghormati serta merawat toleransi antar sesama rakyat Indonesia tinggi sekali. Bahkan sejatinya toleransi masyarakat Indonesia itu sangat otentik.

"Nah, yang mendestruksi toleransi dan keberagaman kita selama ini, tidak lahir dari masyarakat. Namun lahir dari destruksi politik," jelas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak (Selasa, 8/8).

Bagi Dahnil, laku politisi di Tanah Air belakangan ini sudah masuk pada level yang "memuakkan". Karena cenderung destruktif dan merusak sendi-sendi rekatan kuat sosial antar kelompok, etnis dan agama. Seperti yang terakhir kasus pernyataan Ketua Fraksi Nasdem Victor Laiskodat.


"Laku politik rente yang menghalalkan segala cara dan mengabaikan kepentingan bersama, telah merusak rekatan sosial kita," papar Dahnil, yang juga President Religion for Peace Asia and Pacific Youth Interfaith Network (RfP-APYIN) ini.

Misalnya, toleransi dijadikan alat politik, orang yang berbeda dan berbeda sikap politik distigmatisasi menjadi kelompok intoleran, demikian sebaliknya. Ada lagi yang menggunakan agama sebagai alat politik bukan justru meninggikan etika.

"Narasi-narasi intoleran dan miskin etika itu lahir dari isi kepala politisi yang menghalalkan segala cara untuk menang dan berkuasa. Makna toleransi dimonopoli sesuka dan sesuai selera kepentingan politik," katanya menyesalkan.

Karena itu, dia mengajak semua pihak menghadirkan toleransi yang otentik, toleransi yang melahirkan dialog dan saling Hormat menghormati secara tulus bukan basa-basi politik, apalagi dengan motif rente. Maka yang harus dihadirkan adalah perilaku meninggikan akhlak politik atau etika politik.

"Stop menghalalkan segala cara untuk menegasikan lawan politik. Politik yang menghalalkan segala cara melahirkan perilaku politisi yang minus etika dan akhlak. Menghadirkan agama sebagai solusi bagi kehidupan sosial dan politik, sebagai perekat sosial bagi kehidupan berbangsa dan bernegara," demikian Dahnil Anzar Simanjuntak. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya