Berita

Rizal Ramli

Politik

Kisah Rizal Ramli Menangani Utang Dan Mendapatkan Rp 5 Triliun Tanpa Menjual Saham Selembar Pun

JUMAT, 04 AGUSTUS 2017 | 21:27 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Ekonom senior Dr. Rizal Ramli di banyak kesempatan kerap mengingatkan bahwa Pemerintah harus inovatif dan kreatif dalam menyelamatkan anggaran. Dia menolak Pemerintah terus menjadikan utang sebagai solusi.

"Can we reduce debt by innovative means? Is there other financing options beyond increasing govt debt? Kreatif dong, Innovatif lah," ungkap Rizal belum lama ini.

Rizal menyampaikan itu saat menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa utang menjadi solusi untuk menutupi kekurangan anggaran.


"Jadi kalau ingin APBN tanpa utang, maka belanja Negara harus saya potong sebanyak Rp397,2 triliun. Itu kan berarti balance?" kata SMI, sapaan akrabnya, dalam diskusi "Utang Untuk Apa dan Siapa" di kantornya,
akhir bulan lalu.

Sebelumnya, Rizal juga mengkritik Sri Mulyani yang memotong anggaran secara tajam untuk sektor sosial, tetapi anggaran untuk pembayaran pokok dan bunga utang tidak dipotong.

"Satu-satunya pos anggaran yang tidak diubah: pos pembayaran pokok dan bunga utang. Yang lain semuanya bisa dipotong, jelas sekali ke mana kesetiannya," ungkapnya.

Bagaimana terobosan Rizal Ramli dalam mengantisipasi utang dan inovasi dalam mendapatkan anggaran?

Saat menjadi Menteri Keuangan pada masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli melakukan terobosan untuk menghindari utang negara menumpuk lebih banyak. Yaitu, dengan cara "gali lubang tutup lubang".

Misalnya ia menyepakati "Debt for Nature Swap" dengan Jerman. Saat itu, tahun 2000, ratusan juta dolar AS utang Indonesia dihapus dan ditukar dengan konservasi hutan.

Kemudian, tahun 2001, RR juga mengatur "Debt Swap" dengan Kuwait. "Utang mahal ditukar dengan utang bunga rendah. Kuwait saking gembiranya berhadiah gratis flyover Pasopati di Bandung," ungkapnya.

Tokoh yang pernah dipenjara pada masa Orde Baru ini juga mempunyai terobosan untuk mendapatkan dana membiayai APBN tanpa harus menjual saham perusahaan BUMN selembar pun.

Karena berdasarkan anjuran Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia (World Bank) dalam membiayai APBN adalah dengan menjual saham-saham BUMN yang bagus dan menguntungkan.  

Rizal menolak anjuran tersebut. Karena menurutnya, jika privatisasi model IMF-Bank Dunia itu dijalankan, sebagaimana dilakukan di Rusia pada masa pemerintahan Boris Yeltsin pada tahun 1991-1999, arahnya berbelok dari privatisasi menjadi piratisasi alias perampokan. Istilah itu diungkapkan oleh Prof. Marshall Goldman dari Harvard University, Amerika Serikat.

Akibatnya raja-raja ekonomi baru bermunculan, yaitu mereka yang mampu dengan cepat menumpuk kekayaannya dengan memborong aset BUMN yang harganya supermurah.

Sebagai Menko Perekonomian saat itu, Rizal Ramli ogah mengobral saham BUMN yang bagus seperti PT Telkom dan PT Indosat, yang sahamnya dikenal sebagai saham blue chips di Bursa Efek Jakarta. Apalagi keduanya sudah dual listing dengan mencatatkan sahamnya di pasar modal Nasdaq, Amerika.

Jika terpaksa melakukan privatisasi, dia memilih dengan menjual saham BUMN ke publik lewat mekanisme pasar modal. Dengan cara itu, para pemilik uang di dalam negeri, termasuk lembaga-lembaga keuangan nasional yang memiliki sumber dana berlebih, berkesempatan membeli saham BUMN itu secara kompetitif.

"Saya tidak mau melakukan privatisasi ugal-ugalan seperti itu," kata Rizal. Selain itu, yang dilepas ke publik juga bukan BUMN pencetak duit, seperti Telkom dan Indosat, melainkan BUMN yang kinerjanya memble.

Nah, disinilah Rizal yang ketika itu menjadi Menko Perekonomian, menunjukkan kelasnya sebagai ekonom yang selalu berpikir out of the box. Untuk menggaet dana tanpa perlu melego selembar saham BUMN, dia memisahkan kepemilikan silang dan manajemen silang antara PT Telkom dan Indosat.

Ketika itu Telkom dan Indosat memiliki puluhan anak perusahaan yang dimiliki dan dikelola bersama, antara lain, PT Telkomsel, PT Satelindo, dan PT Lintas Arta. Dalam sebuah rapat tertutup dengan Menteri Perhubungan saat itu, Agum Gumelar, yang juga dihadiri segenap direksi dan komisaris kedua BUMN itu, Rizal mencetuskan gagasan penghapusan cross ownership dan cross management tadi.

"Pemerintah menghendaki, kepemilikan silang dan manajemen silang di anak-anak perusahaan PT Telkom dan Indosat diakhiri, sehingga akan tercipta kompetisi yang fair. Rakyat sebagai konsumen akan lebih diuntungkan. Bukan terus-terusan mempraktikan kerjasama terselubung yang cenderung merugikan rakyat," kata Rizal, membeberkan alasan yang melatarbelakangi gagasan pemisahan kepemilikan saham kedua BUMN itu.

Satu manfaat penting dari pemisahan kepemilikan silang bisa mendatangkan dana segar bagi keuangan negara sebesar Rp5 triliun. Uang itu berasal dari pajak transaksi dan pajak revaluasi aset kedua BUMN. Bisa dibayangkan, mendapatkan dana ekstra Rp5 triliun tanpa kehilangan saham. Sebuah terobosan yang sangat tidak lazim.

Namun sayangnya setelah Rizal Ramli tak lagi jadi menteri menyusul lengsernya Abdurrahman Wahid, Pemerintahan Megawati Soekarnoputri menjual Indosat ke Singapura. [zul]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya