Berita

Presiden Jokowi/Net

Politik

Dipuji Di Luar, Dicaci Di Dalam

Wiranto Bicara Nasib Jokowi
SELASA, 01 AGUSTUS 2017 | 11:01 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menkopolhukam Wiranto mengaku heran dengan kondisi politik di Tanah Air. Kata dia, Presiden Jokowi yang sering mendapat pujian dari dunia internasional, justru dipandang sebelah mata, bahkan dicaci sendiri oleh rakyatnya.

Hal ini disampaikan Wiranto saat memberikan sambutan dalam acara silaturahmi kepemudaan internasional,  Junior Chamber Internasional (JCI), di Grand Sahid, Jakarta, kemarin. Wiranto mengatakan, pemerintah saat ini sedang fokus menuju visi masyarakat Indonesia adil dan makmur, antara lain dengan membangun basis ekonomi yang baru. Tak mudah memang, apalagi saat ekonomi dunia sedang lesu. Wiranto juga mengatakan, pemerintah tak menutup mata dengan tingginya kesenjangan sosial saat ini. Tapi, pemerintah berada dalam jalur yang benar mencapai visi tersebut.

Beberapa capaian sudah terlihat hasilnya. Misalnya, konsep membangun dari pinggiran dengan mengenjot pembangunan infrastruktur di daerah perbatasan. Selain itu, ada juga penyeragaman harga BBM. Kini, harga BBM di Pulau Jawa dengan di Papua relatif sama.


Di sektor ekonomi, lanjut dia, pemerintah tengah memangkas berbagai regulasi untuk mendongkrak investasi dalam negeri. Hasilnya, izin-izin yang tak perlu dihapus. Izin investasi yang biasa berbulan-bulan bisa selesai dalam waktu satu jam. Program lain adalah sinergi antara pengusaha atau konglomerat dengan UMKM.

Atas berbagai usaha itu, lanjut Wiranto, ekonomi Indonesia saat ini bisa bertahan di saat kondisi dunia yang tidak menguntungkan. Pertumbuhan ekonomi masih stabil. Atas hasil itu, Wiranto mengatakan Presiden Jokowi kerap mendapat apresiasi dari dunia internasional.

Nah, yang bikin heran, lanjut dia, di dalam negeri Presiden Jokowi justru kerap dipandang sebelah mata. Tak jarang malah mendapat hujatan. "Dibilang banyak utang, diktator dan tidak demokratis," kata Wiranto.

Wiranto memang tak menjelaskan apa saja pujian dari dunia internasional itu. Namun sekadar tahu saja, dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia memang beberapa kali mendapatkan apresiasi dari dunia internasional. Misalnya, hasil survei dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mencatat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah saat ini mencapat 80 persen. Melesat dibanding tahun 2007 yang hanya 28 persen.

Pujian terakhir datang dari Bos Bank Dunia Jim Yong Kim saat berkunjung ke Istana, Rabu (26/7) pekan lalu. Kim memuji kepemimpinan Jokowi dalam reformasi regulasi di bidang ekonomi. Sehingga pertumbuhan ekonomi bisa tetap 5 persen saat ekonomi dunia sedang lesu. Jika reformasi regulasi ekonomi ini terus dilanjutkan dengan tambahan perbaikan di sana-sini, Kim memprediksi, Indonesia bisa bergerak dari negara berpendapatan rendah menuju negara berpendapatan menengah hanya dalam waktu singkat. "Ini akan membuat iri mayoritas negara di dunia," ungkapnya.

Menanggapi hasil survei dan pujian itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, hal ini mengindikasikan pemerintah "telah bekerja dengan baik".

Apa benar? Pengamat komunikasi politik dari UIN Prof Andi Faisal menilai apa yang disampaikan Wiranto adalah hal yang wajar. Sebagai seorang anak buah presiden, Wiranto memang harus mengapresiasi dan memuji berbagai capaian pemerintah. Terlebih Wiranto adalah seorang menkopolhukam dan juga seorang politis. "Di satu sisi beliau sedang cari aman," kata Andi, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Andi melanjutkan, di satu sisi, Wiranto mengakui bahwa ada gejolak di masyarakat saat ini. Yaitu rasa ketidaksukaan rakyat terhadap Jokowi yang diawali dengan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah. Dan itu sesuatu yang nyata. Apalagi jika yang menjadi rujukan adalah media sosial. "Bisa dianggap apa yang ada di media sosial ini perwakilan dari kelompok yang bebas bicara. Media tersebut mengungkapkan realita hidup masyarakat secara real. Bisa dibilang itu gambaran kebenaran. Berbeda dengan media mainstream yang tentu ada gap-nya?" ujarnya.

Jadi apakah ada informasi yang berbeda yang didapat dunia internasional dan rakyat? Andi bilang, tentu tidak semua masyarakat dunia juga memuji kepemimpinan Jokowi. Dia bilang, kekhawatiran orang Indonesia juga dirasakan oleh orang luar negeri. Soal ekonomi yang gagal, utang, dan demokrasi dan penegakan hukum. Andi yang mengaku baru pulang dari luar negeri pun bercerita media luar negeri saat ini melihat kondisi politik Indonesia sedang menghangat karena ada janji politik yang tidak dilaksanakan dan gagal dalam peningkatan ekonomi. "Dan sekarang ini, ada perlawanan dari kelompok oposisi yang ditopang oleh yang dimasukkan dalam kategori agamis," tuntasnya.

Pengamat ekonomi dari Indef Enny Sri Hartati, mengakui memang ada apresiasi terhadap pemerintah dari dunia internasional. Antara lain dari hasil survei OECD. Namun, Enny mengingatkan agar pemerintah tidak cepat puas. Stabilitas politik dari survei itu harus bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yaitu pertumbuhan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat. Dan jika mengacu pada pencapaian ekonomi, indikator-indikator ekonomi justru menunjukkan kondisi yang relatif stagnan.

Misalnya, kebanyakan investasi yang mengalir ke Indonesia selama ini justru investasi portofolio, sementara pertumbuhan penanaman modal asing, atau foreign direct investment (FDI) masih sangat minim.

Belum lagi destinasi dari investasi itu kebanyakan ke sektor-sektor industri primer dan tersier. Padahal, pemerintah menghendaki agar investasi masuk ke sektor industri manufaktur padat karya yang merupakan industri sekunder. Hasilnya, penciptaan tenaga kerja juga masih minim. "Kebanyakan yang masuk justru di dua sektor itu, seperti sektor sumber daya alam dan di sektor jasa. Sementara di industri sekunder, seperti industri padat karya masih minus," jelasnya. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

UPDATE

KSP Kawal Pembangunan MRT Jakarta sebagai Proyek Strategis Nasional

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:24

BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:19

Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

PPKGBK Memverifikasi Penghuni Hotel Sultan Usai Eksekusi Pengosongan

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

Pemerintah Harus Benahi Kebijakan Domestik agar Investor Tak Kabur

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10

PKB Usul Ambang Batas Parlemen 5 Sampai 7 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:01

Disinggung Aliran Duit ke Gus Yaqut, Fuad Hasan: Bahaya Kamu!

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:57

UMKM Binaan Pertamina Gelar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:55

Rapimnas II di Banten, KAMMI Teguhkan Arah Gerakan Kebangsaan

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51

Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Formula Pasar

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:48

Selengkapnya