Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

Waketum Gerindra: Salah Besar Sekjen PDIP Tanggapi Pernyataan Prabowo

SENIN, 31 JULI 2017 | 10:50 WIB | LAPORAN:

. Saling serang argumen antar petinggi partai terkait ambang batas pencalonan presiden alias presidential threshold (PT) 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara nasional dalam UU Pemilu terus berlangsung.

Kali ini, Wakil Ketua DPP Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono menanggapi pernyataan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristianto yang mengatakan Ketua Umum DPP Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan pihak lain yang terus-menerus mencari kesalahan dari penetapan PT, terlalu berambisi untuk menjadi presiden.

"Bukan ambisi. Salah besar Sekjen PDIP menanggapi pernyataan Prabowo yang mengatakan lelucon politik dan menipu rakyat," ujar Arief, Senin (31/7).


Prabowo sebelumnya menegaskan, Gerindra tidak ikut bertanggung jawab dalam pengesahan RUU Pemilu. Mereka tidak mau ditertawakan sejarah. Mereka tidak mau ikut sesuatu yang melawan akal sehat dan logika.

"Presidential threshold 20 persen, menurut kami, adalah lelucon politik yang menipu rakyat Indonesia. Saya tidak mau terlibat," kata Prabowo usai bertemu Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis malam (27/7).

Menurut Arief, yang menyetuji PT 20-25 persen bukan hanya lelucon politik dan menipu rakyat, tapi merusak tatanan konstitusi.

"Yang menyetujui UU Pemilu tersebut kurang waras dan melanggar hak konstitusi para pemilih pemula dan menganggap rakyat bodoh hanya demi memulai sebuah rencana kecurangan dalam Pemilu 2019," ungkapnya.

Kekurangwarasan partai-partai yang menyetujui adanya PT menurut dia karena Pileg dan Pilpres pada Pemilu 2019 akan berlangsung secara serentak.

"Jika yang dijadikan dasar PT 20 persen adalah hasil perolehan suara dan kursi di DPR pada Pemilu 2014, artinya pemilih pemula pada Pemilu 2019 kehilangan hak konstitusinya untuk mengusung seseorang calon Presiden karena mereka pada tahun 2014 belum bisa memberikan suaranya sebagai dasar untuk mengusung capres-cawapres pada Pemilu 2019," terang Arief.

"Nah ini sama saja Joko Widodo dan PDIP serta antek-anteknya membohongi masyarakat dan kurang sampai otaknya tentang sebuah arti hak konstitusi warga negara dalam negara yang berdemokrasi. Jadi wajar saja kalau PDIP sering disamakan dengan PKI, habis sering buat lawak politik dan nipu rakyat sih," pungkasnya menambahkan. [rus]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya