Berita

SBY-Prabowo/Net

'Nasi Goreng', Perekat Koalisi Jawara Hambalang-Jagoan Cikeas

SABTU, 29 JULI 2017 | 07:54 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

SEKITAR satu tahun menjelang Pilpres 2014, Letjen (Purn) Luhut B. Panjaitan memimpin satu tim yang beranggotakan sembilan jenderal pensiunan, menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan.

Tujuan Luhut Panjaitan dkk untuk meyakinkan Presiden SBY agar tidak mendukung pancapresan Prabowo Subianto di tahun 2014 tersebut.

Gaya Luhut Panjaitan dalam menyampaikan pesan poliitkk, mengingatkan film "Naga Bonar", dimana sang jenderal berbicaa sangat lugas tanpa tedeng aling-aling.


Dari peristiwa ini cukup jelas tergambar "faktor SBY" dalam percaturan politik nasional, diakui oleh para jenderal senior, masih sangat menentukan.

Dan dari bahasa tubuh yang diperlihatkan SBY, Presiden ke-6 RI tersebut setuju dengan gagasan Luhut Panjaitan dkk.

Luhut Panjaitan memang menjadi sosok militer bersama jenderal lainnya AM Hendropriyono - yang secara terbuka mendukung pencapresan Joko Widodo dalam Pilpres 2014.

Sementara SBY dalam Pilpres 2014, terkesan ingin dilihat sebagai negarawan yang berada dalam posisi netral.

Demikian kuatnya upaya SBY untuk tidak dilihat sebagai bekas Presiden yang berpihak. Sampai-sampai ia tidak secara eksplisit mendukung Hatta Rajasa - besannya, yang jadi pasangan Prabowo Subianto di Pilpres 2014 tersebut.

SBY dengan Partai Demokratnya, benar-benar membuktikan tidak memihak.

Hampir bersamaan dengan penyikapan SBY tersebut, di media sosial - beredar tayangan yang berisikan ceritera berupa perselisihan pribadi antara Prabowo Subianto dan SBY sewaktu keduanya masih menjadi taruna di Akademi Militer Magelang. Antara lain disebutkan, Prabowo sangat marah kepada SBY sampai-sampai Prabowo menampar SBY.

Sejauh mana kebenaran cerita tersebut, tak ada yang bisa memastikannya.

Sayapun sempat berkhayal, bagaimana cara Prabowo menampar SBY yang memiliki postur cukup tinggi. Apakah Prabowo melakukannya dengan cara meloncat? Atau ada teman taruna yang membantu Prabowo?

Hanya saja, berhubung tak pernah ada klarifikasi baik dari Prabowo maupun SBY, maka itu saya anggap bagian dari Perang Urat Syaraf Antar Jenderal lulusan Orde Baru.

Perang Urat Syaraf terjadi, karena itulah pertikaian yang tak beresiko.

Yang pasti kesan yang muncul adalah masuk akal kalau SBY menyimpan rasa sakit hati atas perlakuan Prabowo. Rasa sakit hati mana akan dia bawa sepanjang umurnya.

Cerita itu seakan menguatkan asumsi, sangat masuk akal, bila SBY sangat dipengaruhi oleh tekanan Luhut Panjaitan dkk.

Kesan lainnya yang mengemuka, desakan Luhut Panjaitan dan jenderal-jenderal seniornya agar SBY tidak berpihak kepada mantan menantu Presiden Soeharto itu, sebenarnya merupakan bagian dari rekayasa dan konspirasi.

Maksudnya begini: sebelum Luhut dkk diterima Presiden SBY, mereka sudah saling telepon-teleponan. Artinya SBY juga memang punya kepentingan yang sama dengan Luhut Panjaitan dkk.

Tapi agar lebih kelihatan elegan, SBY sebagai Presiden dianggap memiliki jiwa negarawan, maka Luhut-lah yang diminta bersikap tegas. Jenderal berdarah Batak ini, sengaja diminta untuk pasang badan menghadapi Prabowo Subianto.

Semenjak kejadian itu muncul persepsi, SBY menjadi jenderal senior yang berbeda kubu dengan Prabowo Subianto. Tak bakal ada kejadian yang bisa menghapus perbedaan tersebut.

Tapi di tahun 2017, terjadi perubahanan yang cukup drastis, sekaligus mengejutkan.

SBY membuat kebijakan dengan cara menghapus perbedaan yang ada dalam hubungannya dengan Prabowo Subianto.
SBY justru mendukung penuh Prabowo menjadi Presiden dalam Pilpres 2019.

Waktu dan kepentingan, nampaknya bisa merubah dan mengubah segala-galanya dalam posisi 180 derajat.

Sikap SBY terhadap Prabowo Subianto tidak lagi seperti yang didiktekan oleh Luhut Panjaitan.

Pilpres masih dua tahun lagi, SBY justru secara terbuka menyatakan mendukung Prabowo Subianto untuk menjadi Presiden RI, sekaligus menggantikan Joko Widodo yang merupakan dukungan Luhut Panjaitan.

Dan yang cukup menarik, SBY mendukung Prabowo asalkan putera sulungnya Agus Yudhoyono dijadikan pasangan Prabowo sebagai “cawapres”.

Perubahan sikap SBY ini mau tak mau memancing pertanyaan - apakah ini yang disebut politik tidak mengenal lawan dan kawan yang abadi? Yang abadi hanyalah kepentingan?

Maksudnya ketika di Pilpres 2014, Prabowo masih ditempatkan oleh SBY sebagai lawan politik. Tapi untuk Pilpres 2019, tidak lagi demikian. Prabowo sudah menjadi kawan dalam berpolitik.

Perubahan sikap dan status SBY ini, tidak terlepas dari kepentingan politiknya. Yakni Agus Yudhyono, yang gagal di Pilkada DKI di tahun 2017, tidak boleh kehilangan segala-galanya. Agus yang sudah kehilangan kesempatan menjadi jenderal - karena keputusannya pensiun dini dari dinas TNI, harus bisa membuat loncatan kompensasi. Dan melejit ke kursi RI-2, mendampingi Prabowo Subianto, itulah loncatan yang paling tepat dan ciamik.

Kepentingan terbaru SBY adalah kegagalan Agus, putranya dalam Pilkada DKI, harus terkompensasi dengan keberhasilan di Pilpres 2019.

Dan jika berhasil, pada akhirnya, peluang keluarga Cikeas berkuasa kembali di Indonesia untuk waktu yang lebih panjang, bisa tercapai.

SBY pasti punya kalkulasi. Seandainya Prabowo terpilih sebagai Presiden RI untuk dua perioden pun, Agus Yudhoyono tetap saja sebagai Wapres untuk dua periode.

Kesempatan menjadi Wapres dua periode, justru memberi Agus Yudhoyono banyak waktu untuk memersiapkan diri sebagai Presiden, juga untuk dua periode.

Sehingga secara metematika, keluarga SBY, bisa tercatat sebagi sebuah dinasti yang mampu memimpin Indonesia selama 30 tahun - mendekati rekor Presiden Soeharto, 32 tahun (1966-1998).

Hitungannya begini: SBY sebagai Presiden (2004-2014). Total berkuasa 10 tahun. Agus Yudhoyono sebagai Wapres (2019-2029), juga total 10 sepulih tahun. Dan Agus selaku Presiden (2029-2039) juga berkuasa 10 tahun.

Tidak mudah menyaingi reputasi "Like Father Like Son" seperti ini. `

Jika ini tercapai, SBY bukan hanya menyamai rekor Presiden Soekarno yang puterinya Megawati bisa menjadi Presiden. Tapi sekaligus mengalahkan Megawati - salah seorang politisi yang memusuhinya secara abadi.

Karena Megawati tidak berhasil menjadikan puterinya Puan Maharani sebagai Wapres apalagi Presiden RI.

Berubahnya sikap SBY terhadap Prabowo, mungkin saja secara psikologis bisa menjadi sebuah pukulan politik yang telak bagi Luhut Panjaitan dkk.

Apalagi perubahan itu terkesan berbiaya murah. Tidak ada mahar berbentuk uang ataupun emas dan berlian.

Prabowo yang terkenal keras dan lebih banyak didatangi atau dipinang oleh tokoh-tokoh politik, kali ini, dia yang justru beriniasitif, mendatangi SBY di rumah Cikeas.

Sajian SBY yang disiapkan pun, untuk menyambut Prabowo, bukan tergolong makanan mewah atau kuliner asing berbiaya mahal. Katakanlah seperti makanan Jepang sejenis sushi-shashimi. Atau makanan ala Prancis, steak dengan anggur merah yang sudah disimpan lebih dari 20 tahun.

Cukup hanya dengan 'Nasi Goreng'. Dan 'Nasi Goreng' Cikeas inipun akhirnya merubah sejarah dan peta pertarungan politik nasional mulai pekan ini hingga ke waktu yang belum bisa diprediksi.

Satu hal saja yang mungkin perlu jadi catatan kaki, bahwa semua perubahan yang dilakukan oleh SBY maupun Prabowo, merupakan agenda manusia.

Oleh sebab itu, setelah postingan tulisan ini berikutnya saya akan coba bahas, berbagai kemungkinan yang bisa terjadi atas terbentuknya koalisi Prabowo-SBY atau pertemenan antara Jawara Hambalang dan Jagoan Cikeas. [***]

Penulis adalah wartawan senior

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya