Bakal calon Gubernur Jawa Barat, Agung Suryamal, mengaku tak gentar mengetahui hasil survei yang menyatakan bahwa elektabilitas rivalnya, Ridwan Kamil (RK) yang relatif masih tinggi.
"Prinsipnya kalau dedikasikan yang terbaik untuk masyarakat Jawa Barat. Insya Allah siap (lawan RK). Masih panjang waktunya, sekarang fokus mendengar aspirasi masyarakat dan langsung turun untuk mengetahui problematika masyarakat,†kata Agung di Bandung, Jumat (21/7).
Komunikasi dengan sejumlah partai politik tengah dijajakinya, dan terus melakukan sosialisasi dengan warga Jawa Barat.
"Sejauh ini sudah ada pembicaraan dengan beberapa partai besar seperti Gerindra, PAN, PKS, PPP dan Demokrat. Para elite menyambut baik," sebutnya.
Bahkan beberapa parpol sudah memberinya restu maju kontestasi Pilkada Jabar 2018 nanti.
"Sudah ketemu sama Pak Prabowo (Gerindra), Pak Sohibul Iman (PKS), Pak SBY (Demokrat) dan Pak Zulkifli Hasan (PAN). Semuanya mendukung. Seluruh tim dan saya sendiri makin semangat untuk jemput takdir," kata Agung.
Tidak hanya dari elit politik, Agung mengaku juga mendapat dukungan dari sejumlah kalangan. Salah satunya dari para pedagang di Jawa Barat yang bernaung di bawah Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Jawa Barat.
"Sebanyak lima juta pedagang pasar di Jawa Barat, kemudian para pedagang kaki lima (PKL) yang jumlahnya 2 juta orang, mereka total mendukung," beber penggagas "Jihad Ekonomi" ini.
Terlepas dari hasil survei, Agung menjelaskan bahwa ajang Pilkada Jawa Barat 2018 bukan hanya perkara menang atau kalah, tapi bagaimana seorang pemimpin mampu membuat terobosan untuk Jawa Barat.
"Ini soal bagaimana membuat terobosan untuk Jawa Barat mengingat provinsi ini masih mengalami beberapa masalah seperti pembangunan yang belum merata. Karena pembangunan infrastruktur lebih banyak dilakukan di pusat perkotaan sehingga pembangunan daerah pinggiran atau perbatasan terkesan terabaikan," paparnya.
Belum lagi, sambung Agung, ketersediaan infrastruktur yang belum memadai seperti jalan raya dan jembatan yang rusak sehingga menyulitkan warga. Kemudian masalah ekonomi juga masih menjadi momok utama yang menyebabkan angka pengangguran dan kemiskinan di Jabar relatif tinggi.
[wid]