Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

ARTIKEL JAYA SUPRANA

Kenisbian Toleransi

KAMIS, 20 JULI 2017 | 11:45 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

BANGSA Indonesia intoleran? Saya tidak setuju! Mungkin akibat terlalu naif, egosentrik, hipernasionalis maka sebagai warga bangsa Indonesia saya yakin bahwa bangsa saya adalah bangsa yang toleran. Bahkan kerap kali saya merasa bahwa bangsa Indonesia terlalu toleran.

Toleran

Misalnya banyak yang melakukan pelanggaran peraturan lalu lintas di jalan raya atau tidak raya, tanpa ada yang menegur apalagi menangkap jelas merupakan indikasi bahwa bangsa Indonesia atau minimal polantas Indonesia sangat toleran terhadap pelanggaran lalu lintas. Atau jalan-jalan rusak dibiarkan rusak oleh pemerintah maka  berarti pemerintah Indonesia sangat toleran terhadap jalan rusak. Bangsa Indonesia toleran maka tidak ada yang peduli apalagi protes kadar polusi udara di kota-kota besar Indonesia sudah melampaui ambang batas yang membahayakan kesehatan manusia.


28 September 2016 penggusuran dilakukan bangunan dan tanah di Bukit Duri yang masih dalam proses hukum di PN dan PTUN, nyaris tidak ada yang prihatin kecuali para warga Bukit Duri yang menjadi korban penggusuran.
Para penista agama lazimnya langsung dijebloskan ke dalam rumah tahanan, namun ketika ada yang dituntut untuk langsung masuk rumah tahanan akibat dianggap menista agama, malah pihak penuntut dituduh intoleran. Mirip intoleransi terhadap para pencuri ayam sehingga hukumnya wajib harus dihukum penjara sementara toleransi terhadap para koruptor triliunan rupiah sehingga bisa lestari bebas merdeka.

Kurang jelas apakah para koruptor dengan korupsi di atas satu triliun rupiah lebih jarang ditangkap ketimbang para koruptor di bawah satu miliar merupakan bentuk toleransi atau intoleransi terhadap apa yang disebut sebagai korupsi .

Kontekstual

Tampaknya predikat toleran atau intoleran memang kontekstual tergantung pada siapa yang dianggap dan menganggap dirinya toleran atau intoleran. Namun biasanya pihak yang intoleran adalah orang lain sementara diri kita sendiri hukumnya wajib pasti toleran.

Ambang toleransi setiap insan secara biologis beda dengan setiap insan lainnya. Misalnya toleransi daya cerna saya terhadap cabe beda dengan orang lain. Makan satu cabe saja saya sudah diare sementara orang lain makan sepuluh cabe tidak masalah. Saya alergi asap rokok sementara banyak yang malah gemar menghirup asap rokok. Seteguk alkohol saja langsung bikin saya mabuk sementara banyak yang tetap tegar bugar meski sudah minum seliter.

Beda toleransi juga hadir pada kemanusiaan. Akibat beda toleransi kemanusiaan maka saya prihatin atas nasib rakyat bantaran sungai Ciliwung yang digusur sementara para penggusur dan para pendukung kebijakan menggusur rakyat malah menghujat rakyat miskin di bantaran sungai sebagai penyebab banjir.

Nisbi

Toleransi terhadap rasa sakit antara lelaki dengan perempuan juga beda. Wajar bahwa setiap perempuan merasa kesakitan ketika melahirkan sementara andaikata saya harus melahirkan pasti tidak sempat merasa kesakitan sebab langsung pingsan.

Karena hakikat toleransi memang nisbi, maka sebaiknya saya jangan memaksakan toleransi saya kepada orang lain. Seperti saya tidak merasa terhina apabila disebut sebagai anjing sebab anjing adalah mahluk hidup yang setia, namun sebaiknya saya jangan menyebut orang lain sebagai anjing. Saya tidak keberatan agama saya dikritik namun sebaiknya saya jangan mengkritik agama orang lain.

Pemahaman demokrasi yang benar memang toleran terhadap kebebasan berpendapat namun intoleran terhadap kebebasan menghina apalagi memfitnah.

Sebenarnya mampu (jika mau) disimpulkan bahwa apa yang disebut sebagai toleransi tergolong suatu bentuk perasaan yang nisbi maka pada hakikatnya mustahil digeneralisasikan harus berlaku sama dan sebangun bagi semua orang. Maka wajar apabila ada pihak yang menganggap bangsa Indonesia adalah bangsa yang intoleran sementara saya pribadi meyakini bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang toleran. [***]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajar Kemanusiaan

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Pimpinan Baru OJK Perlu Perkuat Pengawasan Fintech Syariah

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:25

Barang Ilegal Lolos Lewat Blueray Cargo, Begini Alurnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:59

Legitimasi Adies Kadir sebagai Hakim MK Tidak Bisa Diganggu Gugat

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:36

Uang Dolar Hingga Emas Disita KPK dari OTT Pejabat Bea Cukai

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:18

Pemda Harus Gencar Sosialisasi Beasiswa Otsus untuk Anak Muda Papua

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:50

KPK Ultimatum Pemilik Blueray Cargo John Field Serahkan Diri

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:28

Ini Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:08

KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Pejabat Bea Cukai, 1 Masih Buron

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:45

Pengamat: Wibawa Negara Lahir dari Ketenangan Pemimpin

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:24

Selengkapnya