Berita

Hukum

Kejagung Minta Penyitaan Sertifikat PT GWP Di Bank CCB

RABU, 05 JULI 2017 | 12:23 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Bareskrim Polri diminta segera menyita tiga sertifikat berbentuk SHGB atas nama PT Geria Wijaya Prestige yang dipegang PT Bank China Construction Bank Indonesia (CCB) untuk melengkapi berkas perkara dugaan penggelapan sertifikat tersebut.
 
Ketika mengembalikan berkas perkara dugaan penggelapan sertifikat PT Geria Wijaya Prestige (GWP) ke Bareskrim, penyidik Kejaksaan Agung diketahui memberi petunjuk agar polisi segera menyita tiga sertifikat yang telah diakui berada di Bank CCB tersebut.
 
Petunjuk jaksa itu terungkap dalam salinan dokumen pengembalian berkas perkara pidana atas nama Tohir Sutanto dengan Nomor: BP/20/IV/2017/Dit Tipidum. Ada beberapa catatan dan petunjuk jaksa, salah satunya yang terpenting adalah penyitaan sertifikat GWP.
 

 
"Sertifikat sebagai objek perkara jadi alat bukti utama. Penyidik harus memperolehnya," kata sumber di Kejagung, Senin (3/7).
 
Penyidik Bareskrim diketahui juga telah mendapatkan izin penggeledahan melalui penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sejak beberapa waktu lalu.
 
Sebelumnya, Bareskrim menetapkan terlapor Tohir Sutanto (mantan Direktur PT Bank Multicor) dan Priska M. Cahya (karyawan PT Bank Danamon Indonesia) sebagai tersangka dalam kasus dugaan penggelapan sertifikat GWP. Hal itu merupakan tindak lanjut pelaporan yang dibuat Edy Nusantara, kuasa Fireworks Venture Limited, selaku pemegang hak tagih atau cessie utang PT GWP. Tohir dan Priska sejak 2 Mei lalu telah dicegah bepergian ke luar negeri. 
 
Fireworks menerima pengalihan hak tagih PT GWP dari PT Millenium Atlantic Securities (MAS) pada 2005. MAS menerima pengalihan hak tagih dari BPPN setelah memenangkan lelang aset kredit macet GWP dalam PPAK VI pada 2004.
 
Masalahnya, tatakala menerima pengalihan hak tagih tersebut, Fireworks tidak memegang tiga sertifikat GWP yang merupakan bagian dari dokumen jaminan kredit. Belakangan diketahui, tiga sertifikat GWP itu dipegang PT Bank Windu Kentjana International Tbk (bank di mana Bank Multicor menggabungkan diri), yang kini bernama PT Bank China Construction Bank Indonesia, sejak bank asal China itu mengakuisisi Bank Windu.

Sebagai pemegang hak tagih paripurna, mestinya Fireworks berhak memegang tiga sertifikat GWP. Namun, kenyataannya, sertifikat itu dipegang pihak lain secara tidak sah.

Sebelum menjual aset kredit macet GWP, BPPN diketahui telah menerima mandat berupa Kesepakatan Bersama pada 8 November 2000 yang ditandatangani seluruh anggota sindikasi kredit, yaitu Bank Multicor, Bank Arta Niaga Kencana Tbk, Bank Finconesia, Bank Indovest, BPPN dan Bank Danamon Indonesia (bank di mana Bank PDFCI merger).

Pada 2001, sebagai tindak lanjut akta penegasan cessie GWP kepada BPPN, Bank Danamon selaku agen jaminan dan fasilitas wajib menyerahkan seluruh dokumen jaminan kredit kepada BPPN, termasuk sertifikat. Akan tetapi tiga sertifikat GWP tersebut justru diserahkan Bank Danamon ke Bank Multicor.

Dalam setiap langkahnya, termasuk akhirnya menjual aset kredit macet GWP, BPPN selalu mengatasnamakan sindikasi kreditur dengan menggunakan kewenangan khusus PP 17 Tahun 1999 tentang BPPN.

Seluruh jumlah tagihan yang disebutkan dalam surat-surat yang diterbitkan BPPN pun, merupakan jumlah seluruh utang GWP terhadap bank sindikasi, tanpa ada yang dipisahkan atau dikecualikan.

Bank CCB sendiri mengungkapkan bahwa tiga sertifikat GWP memang ditatausahakan pihaknya sebagai agen jaminan dan agen fasilitas sindikasi kreditur.

CCB  mengklaim hal itu sudah sesuai dengan prosedur dan perjanjian kredit sindikasi pada 1995 antara tujuh anggota sindikasi kreditur dengan GWP sebagai debitur.

"Dengan demikian, ketiga sertifikat tersebut di atas diperoleh oleh CCB Indonesia secara sah menurut ketentuan hukum yang berlaku," kata Andreas Basuki, Sekretaris Perusahaan Bank CCB, dalam keterangan tertulisnya.

Edy Nusantara menegaskan pihaknya menghormati proses hukum yang sedang berjalan. "Ini negara hukum. Saya menghormati proses hukum. Yang penting jangan ada intervensi dari mafia manapun," katanya. [rus]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

OIKN Siapkan Rangkaian Prosesi Penghormatan dan Pemakaman Troy Pantouw

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:25

Tugu Koperasi Tasikmalaya Direvitalisasi Jadi Cagar Budaya Nasional

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:18

BMKG Minta Masyarakat Waspadai Gelombang Tinggi di Beberapa Perairan Indonesia

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:11

Lesley Simpson Racik Drama Psikologis Bunga di Tepi Jurang

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:05

Indonesia Harus Terdepan Gerakkan Dunia Internasional Selamatkan Gaza

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:00

SMRC Catat Kepuasan Publik terhadap Prabowo Turun 30 Persen

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:58

Mantri BRI Jangkau Masyarakat Pegunungan Toraja Utara Hadirkan Layanan Perbankan

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:28

Sudaryono Jangan Sesatkan Publik soal Mitos Telur Penyebab Bisul

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:19

KPK Usut Dugaan Suap ke Pejabat Pemkot Bengkulu

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:12

Kemenkes Perluas Skrining HIV, Putus Rantai Penularan di Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 12:42

Selengkapnya