Berita

Ilustrasi/Reuters

Dunia

Thailand Tunda UU Ketenagakerjaan Baru Pasca Eksodus Pekerja Asing

SELASA, 04 JULI 2017 | 19:25 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintah junta Thailand menunda bagian undang-undang perburuhan baru-baru ini yang bertujuan untuk mengatur angkatan kerja asing setelah keputusan tersebut memicu kepanikan dan mendorong lebih dari 60.000 pekerja asing untuk melarikan diri dari negara tersebut.

Pemerintah militer, yang telah memerintah sejak kudeta tahun 2014, telah meminta Pasal 44, sebuah perintah keamanan yang memberi kekuasaan untuk mendorong melalui kebijakan, untuk menunda undang-undang yang memberlakukan denda berat kepada pengusaha dan pegawai yang tidak memiliki ijin kerja.

Dikabarkan Reuters, dengan merujuk pada keterangan Wakil Perdana Menteri Thailand Wissanu Krea-ngam, keputusan semula dikeluarkan untuk mengatasi masalah perdagangan manusia yang diajukan oleh masyarakat internasional.


"Pemerintah harus mengeluarkan undang-undang ini karena kita diawasi oleh masyarakat asing dalam hal perdagangan manusia Jika kita tidak mengeluarkan undang-undang ini, mereka tidak akan membeli barang kita Jadi kita harus melakukannya," jelas Wissanu.

Departemen Luar Negeri AS bulan lalu meninggalkan Thailand di Tier 2 Watchlist, tepat di atas peringkat terendah Tingkat 3, dalam Laporan Tahunan Perdagangan Manusia (TIP) tahunan karena tidak melakukan cukup untuk menangani penyelundupan manusia dan perdagangan manusia.

Wissanu mengatakan pemerintah akan menunda pelaksanaan empat bagian undang-undang tersebut selama enam bulan.

Dia tidak menjelaskan namun kementerian tenaga kerja mengatakan akan menunda bagian undang-undang tersebut sampai Januari untuk memberi pekerja dan atasan mereka lebih banyak waktu untuk mendapatkan ijin kerja mereka.

Thailand adalah tujuan bagi banyak pekerja migran dari negara-negara tetangga yang lebih miskin, termasuk Myanmar dan Kamboja.

Perkiraan resmi menempatkan jumlah pekerja asing di 3 juta namun kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Banyak yang bekerja di Thailand tanpa dokumen hukum, membuat mereka rentan terhadap eksploitasi oleh pialang dan kadang-kadang pedagang gelap. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya