Berita

Kardinal George Pell/net

Dunia

Penasihat Paus Hadapi Tuduhan Pelecehan Seksual Di Australia

KAMIS, 29 JUNI 2017 | 16:59 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Vatikan belum bisa melepaskan dirinya dari skandal pelecehan seksual.

Kepolisian Australia menetapkan Kardinal George Pell, yang merupakan penasihat utama Paus Fransiskus, sebagai tersangka beberapa kejahatan seksual.

Polisi di negara bagian Victoria, Australia, tempat Pell menjadi pastor pada tahun 1970-an, mengatakan bahwa Pell menghadapi banyak tuntutan kasus pelanggaran seksual dari beberapa pengadu.


Mereka tidak merinci tuduhan terhadap Pell atau menentukan usia korban atau periode ketika kejahatan tersebut diduga terjadi. Yang pasti, Pell diperintahkan untuk menghadap Pengadilan Melbourne pada 18 Juli.

Sebagai menteri ekonomi Vatikan, Pell adalah pejabat tertinggi Gereja Katolik yang menghadapi tuduhan semacam itu.

Dia sendiri langsung menegaskan bahwa dirinya tidak bersalah. Ia mengatakan bahwa Paus telah memberinya izin untuk kembali ke negaranya untuk membela diri. Pell pun meninggalkan Vatikan pada hari ini (Kamis, 29/6).

"Saya ulangi bahwa saya tidak bersalah atas tuduhan ini, mereka salah," kata pria berusia 76 tahun itu dalam sebuah konferensi pers.

"Pelecehan seksual sangat menjijikkan bagi saya," tambahnya, dikutip Reuters.

Kasus ini tentu menimbulkan dilema bagi Paus Fransiskus yang telah bersumpah tidak toleran terhadap pelecehan seksual yang dilakukan para petinggi Vatikan.

Pell juga mengecam apa yang disebutnya sebagai "pembunuhan karakter tanpa ampun" oleh media massa terhadap dirinya.

"Saya akan membersihkan nama saya dan kemudian kembali ke pekerjaan saya di Roma," ujar Pell.

Jurubicara Vatikan, Greg Burke, memastikan Pell tidak akan hadir dalam kebaktian gereja umum untuk sementara waktu.

Pelecehan seksual oleh petinggi gereja Katolik pertama kali terungkap pada tahun 2002. Ada temuan bahwa Uskup di wilayah Boston saat itu memindahkan para pelaku ke pos-pos penugasan yang baru. Kisah ini diangkat ke film berjudul Spotlight

Penyelidikan di Boston telah mendorong para korban yang cukup lama diam untuk membuka apa yang menimpa mereka. Hal itu langsung menghancurkan reputasi Gereja Katolik, yang dipaksa membayar kompensasi lebih dari 2 miliar dolar AS. [ald]

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Kasus Video CCTV Restoran, Nabilah O’Brien Siap Hadiri RDPU Komisi III DPR

Sabtu, 07 Maret 2026 | 08:16

Indeks Utama Wall Street Berguguran Saat Perang Diprediksi Berlangsung Lama

Sabtu, 07 Maret 2026 | 08:03

Ketegangan Timur Tengah Bayangi Pasar Saham, Ini Sektor yang Paling Terdampak

Sabtu, 07 Maret 2026 | 07:49

Bursa Eropa Terguncang: Harga Energi Melonjak, Saham Berguguran

Sabtu, 07 Maret 2026 | 07:38

Putin Diduga Bantu Iran Bidik Aset Militer AS di Timur Tengah

Sabtu, 07 Maret 2026 | 07:21

Menkeu Berencana Tambah Penempatan Dana Rp100 Triliun ke Perbankan

Sabtu, 07 Maret 2026 | 07:03

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bedah Pemikiran Islam Bung Karno: Posisi RI di Board of Peace Jadi Sorotan

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:32

Roy Suryo Cs Berpeluang Besar Lolos dari Jerat Hukum

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:19

Kalam Kiai Madura

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:13

Selengkapnya