Berita

Sandiawan Sumardi/Net

Jaya Suprana

ARTIKEL JAYA SUPRANA

Mempelajari Kemanusiaan

KAMIS, 29 JUNI 2017 | 07:34 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DI masa usia senja makin mendekati saat akhir hidup, saya berupaya memanfaatkan masa sisa hidup untuk mempelajari apa yang disebut sebagai kemanusiaan. Dari proses pembelajaran tersebut saya memperoleh kesadaran bahwa mahakarya peradaban dan kebudayaan umat manusia yang terluhur sebenarnya bukanlah para bangunan monumental kasat mata seperti Piramida Mesir dan Meksiko, Tembok Besar China, Candi Borobudur Indonesia, Taj Mahal India, Menara Eifel Perancis, Sydney Opera House Australia, namun apa yang disebut sebagai kemanusiaan. Secara pribadi, saya beruntung sempat berjumpa para mahaguru sebagai narasumber ilham pembelajaran kemanusiaan.

Ojo Dumeh


Mahaguru kemanusiaan saya yang pertama adalah kedua orang tua saya, Lily Puspa dan Lambang Suprana. Ibunda Lily Puspa dengan penuh kasih sayang telah mendidik dan menumbuh-kembangkan lahir batin saya untuk senantiasa berupaya menghargai dan menghormati sesama manusia, termasuk bahkan jutsru terutama mereka yang disebut sebagai kaum miskin.


Ayahanda Lambang Suprana mewariskan falsafah Ojo Dumeh agar saya senantiasa menjaga diri agar jangan terjerumus ke sikap sombong, arogan, terkebur sehingga merendahkan, menghina terhadap sesama manusia, terutama kaum wong cilik miskin dan papa.

Kemudian mahaguru saya yang lain yaitu Gus Dur mewariskan pesan wejangan agar saya selalu berpihak kepada kaum tertindas tanpa pandang latar belakang ras, suku, etnis, sosial, budaya, ekonomi, agama atau apa pun. Kemudian ketika saya berkunjung ke markas besar Buddha Tzu Chi di Hua Lien, Taiwan, saya memperoleh inspirasi kemanusiaan dari Master Cheng Yen antara lain bahwa saya wajib selalu berterima kasih kepada mereka yang berkenan menerima bantuan sebab mereka memberi kesempatan bagi saya untuk berkarya kemanusiaan.

Sebenarnya saya juga memperoleh inspirasi mengenai mahakarya kemanusiaan dari Dr. Albert Schweitzer, Ibunda Theresa dan Sri Paus Fransiskus meski saya tidak sempat jumpa Dr. Albert Ibunda Theresa sebab kedua beliau sudah meninggalkan dunia fana ini. Juga saya belum sempat jumpa Sri Paus Fransiskus sampai saat saya menulis naskah ini.

Sandiawan

Mahaguru kemanusiaan saya terkini adalah pejuang kemanusiaan dari Jeneponto, Sandiawan Sumardi. Beliau mengajarkan kemanusiaan kepada saya bukan dengan kata-kata namun dengan sikap dan perilaku nyata yang telah terbukti dipersembahkan kepada kaum miskin, papa, tertindas dan tergusur sejak dasawarsa terakhir abad XX.  

Jika Aung San Syu Ki yang terbukti tidak berpihak ke kaum Rohingya tertindas di Myanmar atau Barack Obama yang terbukti tidak berhasil menghentikan angkara murka penumpahan darah Amerika Serikat di Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, terbukti memperoleh anugerah Nobel, maka sebenarnya kegigihan dan ketulusan pengabdian bagi kemanusiaan Sandiawan Sumardi juga layak memperoleh anugerah Nobel. Hanya saja, bagi kepentingan politis panitia penyelenggara anugerah Nobel, memang Sandiawan Sumardi memiliki bobot nilai public relations dan geopolitis jauh lebih rendah ketimbang Aung San Syu Ki dan Barack Obama.

Naskah

Saya sama sekali tidak memiliki kedigdayaan kemauan dan kemampuan kemanusiaan seperti Sandyawan Sumardi, Sri Palupi,  almarhum Romo Mangunwijaya serta para pejuang kemanusiaan lainnya. Sedikit kemampuan yang saya miliki cuma menulis.  Maka saya hanya mampu menulis tentang kemanusiaan dari apa yang saya lihat dan dengar di Kampung Pulo, Luar Batang, Pasar Ikan Akuarium, Kalijodo, Bukit Duri, Sukomulyo, Tangerang, Kendeng, Lampung, Papua dan lain sebagainya.

Saya berterima kasih kepada Kantor Berita Politik RMOL yang setiap hari tanpa jemu berkenan mempublikasikan naskah-naskah sederhana saya tentang kemanusiaan. Saya juga berterima kasih kepada penerbit Elex Media Komputindo yang sedang mempersiapkan penerbitan buku saya selanjutnya berjudul “Naskah-Naskah Kemanusiaan“ sebagai antologi naskah-naskah saya tentang kemanusiaan sejak April sampai dengan Desember 2016. Untuk menampung butir-butir pembelajaran mengenai kemanusiaan, saya mendirikan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan. [***]

Penulis adalah pembelajar makna kasih sayang yang terkandung di dalam kemanusiaan

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Rp106,3 Miliar dari OTT BPN, Uang Disimpan di Rumah Tangan Kanan Nusron

Selasa, 15 September 2026 | 20:26

Bapera Hormati Proses Hukum Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 20:24

Homecoming Festival IKA Unpad 2026 Jahit Harmoni Lintas Generasi

Selasa, 15 September 2026 | 20:11

BNI-Pajakind Integrasikan Layanan Perbankan-Perpajakan Digital untuk UMKM

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

Ini Identitas 19 Orang Terjaring OTT KPK di Kasus Kementerian ATR/BPN

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

KPK Tahan 8 Tersangka Kasus Suap ATR/BPN, Tangan Kanan Nusron hingga Bos Summarecon

Selasa, 15 September 2026 | 19:58

UOB: Indonesia Punya Tameng Hadapi Guncangan Global, Apa Itu?

Selasa, 15 September 2026 | 19:37

KUHP-KUHAP Baru Perkuat Peran Advokat Dampingi Klien

Selasa, 15 September 2026 | 19:28

Purbaya Terlempar dari Kabinet Diduga Gegara Whoosh

Selasa, 15 September 2026 | 19:17

Pejabat ATR/BPN Terjaring OTT KPK, Wamen Ossy Minta Publik Tak Berspekulasi

Selasa, 15 September 2026 | 19:01

Selengkapnya