Berita

Bisnis

Antara Sri Mulyani, Elvira Naubillina, Dan Grup IMF

RABU, 28 JUNI 2017 | 16:51 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

GAMBAR di atas menampilkan wajah dua orang ekonom perempuan yang sepintas menurut kacamata awam adalah identik: sama-sama terkenal di dunia internasional dan sama-sama menarik penampilannya.

Yang pertama, kita sudah kenal, adalah Sri Mulyani, ekonom Indonesia, saat ini menjabat sebagai Menteri Keuangan Repubik Indonesia. Yang kedua, adalah Elvira Naubillina, ekonom Rusia, saat ini menjabat Gubernur Bank Sentral Republik Federasi Rusia.

Namun, sebagai ekonom, ternyata di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat prinsipil. Sri Mulyani adalah ekonom yang dianggap sebagai “kaki-tangan” grup IMF-Bank Dunia di Indonesia. Saking dipercayanya oleh institusi pengusung mazhab neoliberal tersebut, Sri Mulyani sempat lama menjabat sebagai Managing Director Bank Dunia (2010-2016) sebelum ditarik menjabat Menteri Keuangan Indonesia tahun lalu. Dan yang paling penting, Sri Mulyani tidak berpengalaman mengangkat perekonomian negaranya dari kondisi krisis.  


Sedangkan Elvira Naubillina sebaliknya. Elvira Naubillina adalah ekonom yang, tanpa meminta pertolongan dari grup IMF-Bank Dunia, berhasil menyelamatkan Rusia dari dua krisis ekonomi, yaitu pada tahun 2008-2009 dan tahun 2014-2015. Akibat terimbas Krisis keuangan Dunia 2008-2009, perekonomian Rusia mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif (-) 7,8%, pada tahun 2009.

Namun, berkat tangan dingin Elvira Naubillina sebagai Menteri Perekonomian, ekonomi Rusia kembali mengalami pertumbuhan positif 4,5% pada 2010.  Kemudian saat terjadi krisis harga komoditi tahun 2014-2015, akibat jatuhnya harga minyak dunia sebesar 40-an% (komoditi yang menyumbang sepertiga PDB dan separuh pendapatan pajak Rusia), bersamaan dengan dikenakannya sanksi ekonomi dari Barat (akibat krisis politik Crimea), pertumbuhan ekonomi Rusia mengalami kontraksi hingga negatif (-) 2,8% di tahun 2015.

Namun, kembali berkat tangan dingin Elvira Naubillina sebagai Gubernur Bank Sentral Rusia (sejak 2013), pertumbuhan ekonomi Rusia berhasil naik menjadi positif 0,3% di kuartal terakhir 2016 dan diprediksi akan mencapai 1,5% di penghujung 2017.

Terungkap alasan mengapa Elvira Naubillina enggan menggunakan jasa IMF dalam penanganan krisis di negaranya. Pada suatu wawancara dengan perwakilan IMF untuk Rusia, Martin Gilman, pada tahun 2011, Elvira Naubillina mengakui bahwa peranan IMF sangat marjinal dalam penyelamatan ekonomi Rusia yang terimbas krisis mata uang Asia 1997-1998.

Saat krisis tersebut terjadi pada tahun 1998, Elvira Naubillina masih menjabat sebagai kepala Departemen Reformasi Ekonomi di bawah Kementerian Ekonomi (baru pada tahun 2007 dirinya menjabat sebagai Menteri Ekonomi Rusia).     

Sayangnya tidak semua negara di Eropa seberuntung Rusia, yang dapat menolak campur tangan grup IMF dalam perekonomian mereka. Contoh menyedihkan terjadi  pada kasus Krisis Yunani yang ditangani oleh Troika (IMF, Bank Sentral Eropa/ECB, dan Uni Eropa) yang setelah tiga kali bailout dalam lima tahun terakhir tetap tidak kunjung pulih perekonomiannya.

Kebenaran pun terungkap. Yanis Varoufakis, mantan menteri keuangan Yunani yang bernegosiasi dengan Troika di tahun 2015, dalam bukunya yang berjudul Adults in the Room, My Battle with Europe’s Deep Establishment, mengungkapkan bahwa para pejabat Troika sebenarnya menggunakan program bailout bagi Yunani demi melaksanakan kebijakan pengetatan anggaran (austerity policy) yang sangat brutal yang menghancurkan kehidupan rakyat Yunani, namun di sisi lain menyelamatkan bank-bank di Jerman dan Perancis.

Jadi, masihkah kita percaya ekonom yang berkiblat ke grup IMF untuk memegang kendali perekonomian Indonesia? [***]

Penulis adalah dosen Universitas Bung Karno

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Tim Hukum Febrie Curiga Ada Nama Pejabat Kejagung Dicatut terkait Duit Rp40 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 04:16

Merawat Aceh, Memprioritaskan Kepentingan Rakyat

Rabu, 09 September 2026 | 04:04

Polda Banten-Basarnas Maksimalkan Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Rabu, 09 September 2026 | 03:32

Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mematikan

Rabu, 09 September 2026 | 03:22

PDIP Tafsirkan Pidato AHY: Bisa Jadi Pesan untuk Presiden Menuju 2029

Rabu, 09 September 2026 | 03:09

Wow! Hadiah Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp10,25 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 02:52

Sekolah Tatap Muka di Lampung Batal Gegara Anak Krakatau Kembali Erupsi

Rabu, 09 September 2026 | 02:14

Survei Digdaya: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 56,3 Persen

Rabu, 09 September 2026 | 02:01

Pencarian 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda Terkendala Arus Kencang

Rabu, 09 September 2026 | 01:34

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Selengkapnya