Berita

Politik

Demokrasi Pancasila Di Depan Jalan Buntu (4- Habis)

Soekarno, Soeharto, Dan Pancasila

RABU, 28 JUNI 2017 | 09:22 WIB | OLEH: ZAINAL BINTANG

HARI Lahir Pancasila tak henti hentinya dipersoalkan. Bongkar pasang penetapan hari lahir Pancasila telah menjadi sengketa politik panjang yang menghiasi jalannya pemerintahan di Indonesia dari masa ke masa.

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, tanggal 1 Juni 1945  disuarakan sebagai hari lahir yang digagas oleh Soekarno selaku anggota BPUPKI (Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang diketuai Dr.KRT Radjiman Wedyodinigrat.

Sementara dipihak lain disebutkan hari lahir Pancasila formalnya adalah pada 18 Agustus. Merujuk kesepakatan hasil rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Junbi Iinkai, yang telah merevisi susunan sila - sila seperti yang berlaku sekarang ini. Seperti diketahui ketua PPKI adalah Bung Karno.


Sehari setelah Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, barulah Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara. Seiring dengan perjalalanan republik, Bung Karno yang menjadi presiden pertama  menetapkan hari lahir Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional 1 Juni 1964.  

Satu tahun kemudian terjadi pemberontakan G30S/PKI pada 30 September 1965. Peristiwa berdarah itu  menandai kejatuhan Soekarno yang sudah ditetapkan sebagai presiden seumur hidup. Bung Karno sang pemimpin besar revolusi berkuasa dari 1945 – 1966, tumbang.

Soeharto yang berlatar belakang militer berpangkat jenderal menggantikan Soekarno. Muncul di panggung politik nasional melalui kiprahnya menumpas pemberontakan  G30S/PKI dan menggulung sisa-sisanya.

Soeharto menjadi presiden mengganti Soekarno pertama kali pada tahun 1968 dan terpilih berturut - turut enam kali berikutnya, hingga dilengserkan oleh gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa pada bulan Mei 1998.

Pada tahun 1970 atas perintah Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), sebuah instrument keamanan dan ketertiban ciptaan Soeharto, melarang pelaksanaan peringatan hari lahir Pancasila model  Soekarno setiap tanggal 1 Juni.

Soeharto mengganti judul menjadi peringatan hari Kesaktian Pancasila sejak 1 Oktober 1970.

Seperti halnya Soekarno, Pancasila kembali dijadikan ajian sakti jati diri pemerintah penguasa oleh Soeharto. Metode ini diperlukan sebagai bagian orkestra politik melanggengkan kekuasaan.

Dengan menempatkan Pancasila di halaman depan, Soekarno dan Soeharto merasa memiliki kekuasaan penuh menjadi penafsir tunggal Pancasila dengan segala implementasinya.

Soekarno melebur Pancasila dalam lembaga kawin paksa yang diberi nama Nasakom (Nasionalis Agama dan Komunis).

Di era Orde Baru Pancasila dibersihkan dari aroma komunis. Dielaborasi menjadi suatu faham yang sakti dengan kembali ke jatidiri sebagai lokomotif pembangunan, dengan mengharuskan dilaksanakannya P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).

Soekarno menggunakan frasa anti Nasakom untuk menggebuk lawan politiknya atau kepada kelompok yang kritis. Dengan temperamen yang sama Soeharto juga punya alat penggebuk kepada mereka yang kritis, yakni sebagai anti P4 atau musuh Pancasila.

Masa pemerintahan Soeharto dikenal dengan sebutan rezim Orde Baru yang sangat represif (1966 – 1998).

Pada kenyataannya kedua presiden itu menggunakan isu Pancasila sebagai primadona pelestarian kekuasaan. Pelestarian kekuasaan Soekarno dan Soeharto semua bertumpu kepada strategi dan taktik yang mengedepankan, kalau tidak bisa disebutkan memanipulasi, Pancasila sebagai maqom pembangunan.

Pancasila sebagai “jualan” politik nampaknya menjadi sumber kekuatan kedua bekas presiden itu, supaya dapat mempertahankan kekuasaanya sedemikian panjang.
Tapi pada gilirannya, atas nama Pancasila pula, kedua kepala pemerintahan itu terjungkal secara tragis dari kursi kepresidenan.

Soeharto dilengserkan oleh gerakan pembaharuan yang dipelopori mahasiswa pada bulan Mei 1998. Gerakan itu dikenal sebagai gerakan reformasi. Hanya dua bulan  setelah dilantik menjadi presiden yang ke tujuh kalinya.

Manakala  penggunaan ajian sakti  “atas nama rakyat” itu melenceng dari kesejatiannya,  pada saat itulah kekuatan yang bersumber dari marwah kerakyatan yang majemuk itu melakukan penolakan.

Dengan kata lain Pancasila yang luhur, menolak menjadi kuda tunggangan nafsu berkuasa sang penguasa yang menghianati sumber kekuatan sejati Pancasila, yaitu, rakyat itu sendiri.

Di era reformasi, Pancasila pelan - pelan hilang dari peredaran. Pada masa presiden Habibie, Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono Pancasila tidak penting. Tidak menjadi isu utama pembangunan. Tidak ada ritual politik berbau pelestarian. Pancasila benar - benar dibiarkan tanpa sesajen politik yang prima dari para presiden sebelum Jokowi itu.

Hampir dua dekade sejak reformasi, terlihat Pancasila terpinggirkan. Hal mana pelan - pelan menjadi pintu masuk merasuknya faham yang non Pancasila ke dalam panggung kehidupan berbangsa dan bernegara: politik identitas merebak bergerak membelah bangsa.

Ditangan Jokowi Pancasila menanti nasib. Akankah diperlakukan kembali sebagai kuda tunggangan politik untuk pelestarian kekuasaan belaka!?

Penetapan hari lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni 2017 sekaligus sebagai hari libur nasional,  yang dibarengi  pelantikan tim pengarah UKP - PIP (Unit Kerja Presiden Pembina Ideologi Pancasila) pada tanggal  7 Juni 2017 menjadi bagian penting sejarah bangsa ini.

Jokowi boleh dikata telah mengambil sebuah tindakan politik  melawan harus ditengah menguatnya politik identitas, yang justru tidak ramah kepada Pancasila. Pertanyaan besarnya, apakah UKP - PIP yang terkesan lahir mendadak itu, tidak akan menjadi alat pemukul pemerintah kepada lawan politik atau kelompok kritis kepada Jokowi? Apakah instrumen UKP - PIP akan mampu mereduksi gumpalan polusi politik identitas yang sedang berkobar saat ini, yang dibayangi dengan ujung yang mengerikan: Bangsa ini akan terbelah? Sejarahlah yang akan menjawabnya.[***]



Penulis Adalah Wartawan Senior & Anggota  Dewan Pakar Partai Golkar








Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Dubes Najib: Dunia Masuki Era Realisme, Indonesia Harus Bersatu

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:10

Purbaya Jamin Tak Intervensi Data BPS

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:06

Polisi Bantah Dugaan Rekayasa BAP di Polsek Cilandak

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:58

Omongan dan Tindakan Jokowi Sering Tak Konsisten

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:43

Izin Operasional SMA Siger Lampung Ditolak, Siswa Diminta Pindah Sekolah

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:23

Emas Antam Naik Lagi, Nyaris Rp3 Jutaan per Gram

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:14

Prabowo Janji Keluar dari Board of Peace Jika Terjadi Hal Ini

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:50

MUI Melunak terkait Board of Peace

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:44

Gibran hingga Rano Karno Raih Anugerah Indoposco

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:30

Demokrasi di Tengah Perang Dingin Elite

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:15

Selengkapnya