Berita

Ilustrasi/CNN

Dunia

Penelitian Soal Perubahan Iklim Gagal Karena Perubahan Iklim

SABTU, 17 JUNI 2017 | 19:42 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sebuah studi tentang perubahan iklim yang menelan anggaran hingga 17 juta dolar AS telah gagal karena perubahan iklim itu sendiri.

Sebuah tim ilmuwan dari Universitas Manitoba dan empat sekolah lainnya berada di tengah-tengah fase pertama studi empat tahun tentang bagaimana perubahan iklim mempengaruhi daerah di sekitar Teluk Hudson.

Menurut keterangan dari pihak universitas, studi tersebut, yang diberi nama BaySys, dimulai bulan lalu, dan para ilmuwan melakukan perjalanan di Canadian Research Icebreaker CCGS Amundsen.


Tapi karena suhu yang lebih hangat di Arktik, es laut berbahaya bergerak lebih jauh ke selatan daripada biasanya.

Amundsen, yang merupakan bagian dari armada Coast Guard Kanada, telah beberapa kali dialihkan karena kemampuan pemecah esnya diperlukan untuk membantu usaha penyelamatan di sepanjang pantai timur laut Newfoundland. Semua penundaan dan kekhawatiran tentang keamanan memaksa pembatalan tahap pertama studi tersebut.

"Mengingat kondisi es yang parah dan meningkatnya permintaan akan operasi pencarian dan penyelamatan dan pengawalan es, kami memutuskan untuk membatalkan misi BaySys," kata Dr. David Barber, kepala ilmuwan ekspedisi dan pemimpin ilmiah BaySys.

"Minggu kedua keterlambatan berarti penelitian kami tujuannya tidak bisa tercapai dengan aman. Tantangan bagi kita semua adalah bahwa bahaya es laut sangat sulit bagi industri maritim, the Canadian Coast Guard and science," sambungnya.

Barber menambahkan bahwa timnya memastikan bahwa sebagian besar air laut yang mereka lihat di lepas pantai Newfoundland memang berasal dari Arktik.

"Perubahan iklim yang terkait dengan es laut Arktik tidak hanya mengurangi tingkat dan ketebalannya namun juga meningkatkan mobilitasnya yang berarti bahwa kondisi es cenderung menjadi kondisi yang lebih bervariasi dan parah seperti ini akan terjadi lebih sering," kata Barber seperti dimuat CNN. [mel]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Netanyahu Sebut Perang dengan Iran Belum Usai

Senin, 11 Mei 2026 | 08:20

OJK: Bank Bebas Tentukan Strategi Kredit, Program Pemerintah Hanya Potensi Bisnis

Senin, 11 Mei 2026 | 08:09

Harga Emas Langsung Tergelincir Usai Trump Tolak Tawaran Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 07:50

Respons Iran soal Proposal AS Picu Kemarahan Trump

Senin, 11 Mei 2026 | 07:40

Sudah Saatnya Indonesia Berhenti dari Ketergantungan Energi Luar Negeri

Senin, 11 Mei 2026 | 07:27

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

Senin, 11 Mei 2026 | 07:09

Optimalkan Minyak Jelantah

Senin, 11 Mei 2026 | 06:40

Geoffrey Till: Kekuatan Laut Bukan Sekadar soal Senjata

Senin, 11 Mei 2026 | 06:10

Delegasi Jepang Sambangi Fasilitas BLP Bahas Masa Depan Logistik

Senin, 11 Mei 2026 | 05:59

Ngobrol dengan Nelayan

Senin, 11 Mei 2026 | 05:40

Selengkapnya