Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Warga Asgardia Segera Tentukan Masa Depan Negara Ruang Angkasa Pertama

SABTU, 17 JUNI 2017 | 19:10 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Warga Asgardia sekarang dapat memilih masa depan "negara angkasa"pertama di dunia, termasuk pemilihan konstitusi, bendera serta lagu kebangsaan.

Asgardia, yang secara resmi dikenal sebagai Kerajaan Luar Angkasa Asgardia, adalah sebuah proposal untuk sebuah negara yang diumumkan pada 12 Oktober 2016.

Sebanyak 214.255 warga negara Asgardia, yang berasal dari sekitar 200 negara, akan memilih lima item, yakni deklarasi negara, konstitusi, bendera nasional, lambang, dan lagu kebangsaan.


Tanggal 18 Juni dalam kalender Gregorian atau tanggal 1 Asgard dalam kalender Asgardian, adalah periode 24 jam di mana warga negara yang terdaftar di negara pertama di dunia dapat secara elektronik memberikan suara pada masa depan negara mereka di ruang angkasa.

Asgardia pertama kali diumumkan di Paris pada tanggal 12 Oktober 2016 oleh ilmuwan Rusia Igor Ashurbeyli, yang menjanjikan sebuah komunitas trans-nasional, trans-etnis, orang-orang dengan tujuan bersama untuk menyelesaikan sebuah Kehadiran manusia di ruang angkasa.

Sementara banyak yang skeptis bahwa Asgardia akan menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar lipatan aneh dalam riwayat pencarian Google mereka, pada hari Senin, Ashurbeyli mengumumkan bahwa satelit pertama, Asgardia-1, akan diluncurkan ke luar angkasa via NASA pada musim gugur ini.

Dalam 40 jam pertama setelah pengumuman kelairan Asgardia, ada hampir 200.000 orang mendaftar untuk menjdi warga Asgardia.

Jumlah tersebut dilaporkan meningkat menjadi lebih dari 500.000, namun menurun menjadi 200.000 orang setelah hanya kandidat "serius" yang diberikan kewarganegaraan.

Sementara Ashurbeyli akan menjadi kepala negara selama lima tahun pertama, pemilihan anggota parlemen akan memilih penggantinya setelahnya, dan memverifikasi orang-orang Asgard yang dapat mulai menaiki tangga politik saat putaran pertama pemilihan dimulai pada 24 Juni.

Warga negara juga dapat membuat perubahan dengan mengajukan petisi kepada pemimpin manapun, termasuk kepala negara, dan setiap cabang pemerintahan Asgardian. Demikian seperti dimuat Russia Today. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya