Dari keseluruhan militan yang terlibat dalam pengepungan dan konflik di Marawi yang kini sudah memasuki pekan keempat, ada salah satu sosok yang menjadi inti pergerakan.
Ia adalah Dr Mahmud Ahmad dari Malaysia, berusia 39 tahun. Mahmud dipandang pihak militer Filipina sebagai salah satu orang paling berbahaya di balik faksi Maute dan Abu Sayyaf yang bertempur di Marawi.
Dikabarkan Channel News Asia, Dr Mahmud adalah seorang dosen di departemen studi Islam di Universitas Malaysia di Kuala Lumpur.
Pada 1990-an, dia pergi untuk belajar di Universitas Islam Internasional Islamabad di Pakistan di mana dia bergabung dengan Al-Qaeda. Selama jeda semester, dia menyeberang ke Afghanistan untuk menjalani latihan paramiliter.
"Ketika dia kembali ke rumah, dia sudah mengalami radikalisasi tapi tidak ada yang tahu tentang hal itu. Dia menjadi dosen dan diam-diam menjalani hidupnya selama bertahun-tahun, "kata seorang sumber intelijen senior Malaysia kepada
CNA.
"Dia sebenarnya adalah sel tidur. Dia sedang menunggu waktunya. Ini adalah merek dagang Al-Qaeda, anggotanya tidak menunjukkan aktivitas dan pemikiran mereka selama bertahun-tahun, tidak seperti IS," tambahnya.
Ia dikenal sebagai seorang pria yang pendiam namun cerdas dan karismatik. Ia dihormati banyak militan, termasuk kepala Abu Sayyaf Isnilon Hapilon dan anak buahnya.
"Dia sangat karismatik dan cerdas," kata sumber tersebut.
"Ketika dia berbicara, dia memerintahkan perhatian orang karena pengetahuan, pengalaman, dan komitmen religiusnya. Dengan demikian, dia bisa dengan mudah merekrut orang," jelas sumber yang sama.
"Dia memiliki jaringan yang sangat bagus di seluruh wilayah ini. Saya percaya dia bisa menyatukan semua elemen (militan) yang berbeda di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya. Inilah yang membuatnya berbahaya," tambahnya.
Dr Mahmud diketahui telah merekrut dan mengatur agar orang-orang Malaysia ke Suriah bergabung dengan ISIS, termasuk pembom bunuh diri pertama di negara tersebut.
"Salah satunya adalah bom bunuh diri pertama di Malaysia, Ahmad Tarmimi Maliki," kata sumber tersebut.
Tarmimi, yang berusia 26 tahun, adalah seorang pekerja pabrik yang bergabung dengan ISIS di Suriah. Dia kemudian dikirim ke Irak di mana dia mengemudikan SUV yang dilengkapi bom ke markas besar pasukan SWAT Irak di provinsi Anbar pada bulan Maret 2014, membunuh dirinya sendiri dan 25 tentara lainnya.
Pada bulan April 2014, Dr Mahmud mendapat kabar bahwa polisi mengejarnya dan dia melarikan diri dari Malaysia ke Filipina selatan bersama dua rekan lainnya.
Selama operasi kontra-terorisme, polisi menemukan bahwa Dr Mahmud telah mendirikan sebuah sel baru pada tahun 2014 yang dikenal sebagai Arakan Daulah Islamiyah (ADL).
"Ketika kami pertama kali menemukan Arakan Daulah Islamiyah, kami bingung karena Arakan adalah nama negara Myanmar tempat asal Rohingya," kata sumber tersebut.
"Kami kemudian menemukan bahwa ADL memiliki hubungan dengan Rohingya dan banyak lainnya di seluruh wilayah ini, dan berencana untuk terhubung dengan kelompok Abu Sayyaf di Filipina," kata sumber tersebut.
"ADL juga mengatur agar para anggotanya mengikuti pelatihan para-militer di Filipina selatan sebelum berangkat ke Suriah," sumber tersebut menambahkan.
Dr Mahmud saat ini diyakini sebagai tangan kanan pemimpin Abu Sayaf, Isnilon Hapilon dan dia berada di kota Marawi.
"Dia ada di sana sebagai pejuang untuk berperang melawan militer Filipina," kata sumber tersebut.
Mantan dosen universitas tersebut memiliki ambisi yang jauh lebih besar daripada hanya merekrut orang untuk pergi ke Syria dan berperang di Marawi, menurut sumber.
Dia berencana untuk mendirikan wilayah ISIS di Asia Tenggara di Filipina selatan bersama pemimpin kelompok Abu Sayyaf Isnilon Hapilon.
"Tapi itu akan sangat sulit dilakukan, untuk mengatur dan berpegang pada wilayah. Tapi pertarungan di Marawi ini akan menginspirasi para pendukung ISIS di Malaysia, Indonesia dan tempat lain untuk pergi ke kota. Mereka akan melihat Marawi sebagai zona jihad baru, "kata sumber tersebut.
[mel]