Berita

Foto/Net

Politik

KPI Minta KPU Publikasikan Media Plan Kampanye

JUMAT, 16 JUNI 2017 | 04:53 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Penyiaran Indonesia (KPI) menyarankan Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar mengumumkan rencana penayangan iklan kampanye yang akan ditayangkan oleh media. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pengawasan dan menghindari penyalahgunaan wewenang dalam penayangan iklan kampanye yang beredar di lembaga penyiaran.

Anggota KPI RI Nuning Rodiyah mengatakan publikasi itu bisa digunakan oleh KPI maupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai rujukan untuk memberi sanksi kepada kontestan pemilihan maupun media apabila melakukan penayangan materi publikasi yang berbeda dengan yang sebelumnya telah direncanakan.

"KPI memberikan masukan untuk KPU agar meng-upload media plan di website. Ditayangkan media mana saja, frekuensinya, berapa spot, dan sebagainya. Agar semua orang bisa mengakses. Pasang di TV ini jam sekian, jam sekian, berapa kali. Sehingga kami kasih info ini ke pemantau dan analis kami untuk ngecek jika ada perbedaan dan penambahan di luar yang dijadwalkan," kata Nuning pada forum Evaluasi Kampanye Pilkada Serentak 2017 yang diikuti oleh 25 KPU provinsi, di Jakarta, Kamis (15/6).


"Nah informasi itu akan menjadi input bagi kami dan Bawaslu, KPU untuk melakukan teguran. Bisa menegur televisi, bisa menegur pasangan calon. Sehingga ke depan ini bisa diawasi dengan ketat," lanjut dia.

Hal itu berkaca pada penyelenggaraan Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, di mana televisi tidak menayangkan iklan kampanye dari masing-masing pasangan calon dengan frekuensi yang sama.

"Karena temuan kami banyak, dan ini tidak hanya oleh salah satu stasiun TV. Contohnya kemarin di salah satu TV penayangan iklan calon A 13 kali, calon B 7 kali, calon C 11 kali, ini kan sudah menyalahi aturan. Karena harusnya KPU itu pasangnya semua pasangan calon tujuh kali," ujar Nuning.

Nuning mengindikasikan, perbedaan frekuensi penayangan iklan kampanye tersebut bisa dipengaruhi oleh kedekatan pasangan calon dengan kepemilikan media. Selain itu, ia juga berpendapat hal itu dipengaruhi oleh oknum yang melakukan pendekatan-pendekatan kepada media, sehingga pihaknya mendapat porsi tambah.

"Penambahan frekuensi penayangan oleh oknum ini, bisa jadi oleh partai politik, bisa jadi tim sukses, bisa jadi TV yang bersangkutan. Ada permainan untuk nambah insert, lobi sama TV dan sebagainya, atau tim marketingnya TV main-main, bisa jadi juga karena TV yang punya afiliasi kepada pasangan calon tertentu, sehingga frekuensinya ditambahi sendiri," ujar Nuning.

Untuk menjaga ketenangan suasana dalam penyelenggaraan pemilihan, Nuning meminta lembaga penyiaran untuk berkomitmen menjaga independensi, keberimbangan, non diskriminatif, serta proporsional sesuai kaidah dan prinsip jurnalistik.

"Untuk pemberitaan, kita meminta kepada lembaga penyiaran untuk komitmen menjaga independensi, menegakkan prinsip-prinsip jurnalistik, keberimbangan dan proporsional, dan tidak mendiskreditkan kelompok tertentu," tukasnya dilansir dari laman KPU. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya