Berita

PM Jepang Shinzo Abe/Net

Global

Parlemen Jepang Keluarkan RUU Konspirasi Anti-teror Kontroversial

KAMIS, 15 JUNI 2017 | 15:31 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Anggota parlemen Jepang mengeluarkan sebuah rancnagan undang-undang kontroversial yang memungkinkan pihak berwenang untuk menargetkan konspirasi teror.

Blok penguasa PM Shinzo Abe mendorongnya melewati majelis tinggi pada hari Kamis (15/6), meski ada pendapat yang bertentangan soal RUU tersebut.

Pemerintah berpendapat bahwa undang-undang tersebut diperlukan untuk memperbaiki keamanan menjelang Olimpiade 2020, dan untuk mematuhi sebuah kesepakatan PBB yang telah ditandatangani oleh Jepang.


Namun para kritikus mengatakan bahwa hal itu melemahkan kebebasan sipil dan dapat disalahgunakan untuk memantau dan menargetkan warga negara yang tidak bersalah.

RUU tersebut telah memicu protes, termasuk satu pada hari Rabu malam di luar gedung parlemen yang dihadiri oleh ribuan demonstran.

RUU tersebut akan mengkriminalisasi rencana dan pelaksanaan 277 tindakan, mengubah undang-undang yang ada terhadap sindikat kejahatan terorganisir.

Termasuk di dalam RUU ini adalah melarang pengadaan dana atau persediaan dan survei lokasi dalam persiapan pelanggaran-pelanggaran ini.

RUU juga melarang perluasan atau pemeliharaan kepentingan terlarang kelompok kejahatan terorganisir.

Jepang telah menandatangani sebuah konvensi PBB melawan kejahatan terorganisir transnasional, namun belum meratifikasinya. Pemerintah mengatakan bahwa undang-undang berita tersebut diperlukan agar ratifikasi dapat dilanjutkan.

Sementara Shinzo Abe mengatakan kepada wartawan bahwa undang-undang tersebut mengizinkan Jepang untuk bekerja sama dengan masyarakat internasional untuk mencegah terorisme.

Aturan baru tersebut bukan hanya mencakup kejahatan serius tapi juga pelanggaran yang lebih ringan seperti, menyalin musik, menggunakan perangko palsu, bersaing dalam balapan motor tanpa lisensi, memetik jamur di hutan konservasi serta menghindari membayar pajak konsumsi. [mel]

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya