Berita

Theresa May/Net

Global

Ribuan Warga Inggris Teken Petisi Minta PM May Mundur

SABTU, 10 JUNI 2017 | 15:20 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sejumlah warga Inggris menandatangani sebuah petisi terhadap keputusan Perdana Menteri Theresa May untuk membentuk sebuah pemerintahan koalisi dengan Partai Persatuan Demokratik (DUP) di Irlandia Utara menyusul kerugian partainya dalam pemilihan umum.

Dalam petisi yang per akhir pekan ini telah ditandatangani oleh 300 ribu warga Inggris itu mendesak May untuk mundur setelah ia kehilangan mayoritas di parlemen.

Menurut hasil pemilihan umum yang diadakan pada hari Kamis (8/6), konservatif memenangkan 318 kursi di House of Commons yang memiliki kapasitas 650 anggota dan Partai Buruh oposisi utama yang dipimpin oleh Jeremy Corbyn meraih 262 kursi.


Partai May berada di urutan pendek dari 326 yang dibutuhkan untuk mayoritas secara langsung dan cukup turun dari 330 kursi yang ada sebelum pemilihan.

Setelah kehilangan mayoritas parlemen, May mengatakan bahwa dia akan berusaha membentuk pemerintah minoritas dengan kesepakatan "kepercayaan dan penawaran" dengan DUP tersebut.

DUP kontroversial di Inggris karena pendiriannya mengenai aborsi, perubahan iklim dan juga dugaan adanya hubungan dengan militan serikat pekerja.

Kemitraan antara Konservatif dan DUP dapat berpotensi mengganggu kestabilan proses perdamaian di Irlandia Utara karena DUP didukung oleh Asosiasi Pertahanan Ulster (UDA), sebuah kelompok paramiliter nasionalis yang kejam.

UDA mendukung DUP dalam pemilihan ini dengan mengeluarkan sebuah pernyataan untuk mendukung kandidat Belfast Belfast, Emma Little Pengelly, sangat mendesak orang untuk mendukungnya.

"Sekarang 2017, paramiliter seharusnya tidak ada, apalagi memberikan dukungan suara dari kandidat politik," kata mantan Menteri Kehakiman Irlandia Utara David Ford.

Koalisi Konservatif dan DUP memiliki lebih banyak implikasi yang mengkhawatirkan untuk proses perdamaian antara partai Katolik dan Protestan.

Mantan juru bicara Partai Buruh Alastair Campbell, mengatakan bahwa May mengancam proses perdamaian dengan mengamankan sebuah aliansi dengan salah satu pihak yang seharusnya diperantarai oleh pemerintah Inggris.

"Dia menganggapnya beresiko dengan kesepakatan yang tidak menyenangkan dan berbahaya," katanya seperti dimuat Press TV. [mel]

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya