Berita

Politik

About My Hidden Agendas

KAMIS, 08 JUNI 2017 | 09:52 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

PSIKODRAMA Pilkada Jakarta usai. Ahok tumbang. One question remains. Pertanyaanya seputar: My hidden agendas.

Mereka heran saya ikut barisan kontra-Ahok. Ada yang curiga, sinis, welcome. Ahoker sebut saya: "penghianat". Di sisi lain, saya dibilang mata-mata, spionase, antek-antek taipan, double-faced agent. Macem-macem predikat. Tapi, Hidup ngga seru kalo ngga ada pro-kontra. Alasan sebenarnya, I like politic.

Jarang-jarang ada antusiasme macam ini. Publik Jakarta serius memikirkan gubernurnya. Kesadaran politik sontak muncul sampe level grassroot. Bagi saya, ini epic.


Politisi macam Ahok merepresentasikan satu dari tujuh dosa sosial Frederick Lewis Donaldson i.e. "Politics without principle."

Namun demikian, Ahok fenomena menarik. Politisi rusak tapi di-support finansial power, partai besar, mass media, aparat keamanan.

Ahok hampir tidak mungkin kalah. Ada adagium, "berharap Ahok kalah sama dengan berharap matahari terbit dari barat". Tapi Jakarta lagi seru-serunya. Sekali pun mesti dapet serangan dari kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang, saya harus berpihak.

Seperti kata Martin Luther King Jr, "There comes a time when one must take a position that is neither safe, nor politic, nor popular, but he must take it because conscience tells him it is right."

Semua ekspresi buruk soal politik ada pada Ahok. Di tangannya, managemen politik menjadi multibillion-dollar industry. Kubunya mempekerjakan banyak pollster, buzzer, speechwriters, tukang iklan, marketer, spin-doctors, frammer, hoaxer dan preman. Mereka bekerja dalam sebuah ruang yang mirip "Lies Factory". Politik benar-benar menjadi virtual reality.

The rise of social media bikin fenomena Ahok tambah menarik. Saling caci, fitnah, character assasination, cyberbullies, hoax merusak demokrasi. "Politik", jadi seperti yang digambarkan George Orwell: "is a mass of lies, folly, hatred and schizophrenia".

Pendapat Presiden Gerakan Kebangkitan Pribumi, Baher Nugroho, sangat benar: saya bukan faktor menumbangkan rezim Ahok.

Saya tidak aktif dalam gerakan lawan Ahok. Ngga berkeringet. Hanya pernah merilis "Seruan Jihad Cyber" sebagai taktik melawan tim cyber Ahok. Muslim Cyber Armies (MCA) adalah faktor yang memberangus buzzer Ahok. Saat Ahok jualan slogan "kerja, kerja, kerja", saya mengimplentasi taktik "Attack, attack, attack". Saya ingat omongan Whitaker, “You can’t wage a defensive campaign and win!”

Selain MCA, faktor utama yang menumbangkan Ahok adalah relawan dan kader Gerindra, PKS, Roemah Djoeang, Pilot Tempur, akun-killer Hazmi Srondol, Abdi Rakyat, Korte-Korwe, Bang Jappar, ACTA, semua mujahid, Ratna Sarumpaet dan Ahmad Dhani.

Dari kubu Ahok, tim bayaran sangat berperan dalam kekalahan Paslon Badja. Seperti kata Albert Einstein, "An empty stomach is not a good political advisor". Itu sebab mengapa Ahok-Djarot berulang kali melakukan blunder. Dan itu fatal. Ngga seperti kata Napoleon Bonaparte yang bilang, "In politics, stupidity is not a handicap". In Ahok case, stupidity is indeed a handicap.

Saya kira, apa pun itu, segalanya telah usai. Permusuhan dan prejudis sudah tidak relevan. Persaudaraan mesti dirajut kembali. Kedamaian harus dipulihkan. Saya tutup risalah ini dengan mengutip Aristotle: "It is not enough to win a war; it is more important to organize the peace".[***]

Penulis Merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak)


Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya