Berita

Politik

Cita Rasa War On Terror

SENIN, 05 JUNI 2017 | 16:39 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

WAR on Terror hendaknya tidak punya cita rasa "War against Islam".

WorldPublicOpinion.org melakukan polling di tahun 2007. Pertanyaannya: "Do you believe the United States seeks to “weaken and divide" the Islamic world?"

Negara mayoritas muslim (+70 persen) seperti Mesir, Pakistan, Maroko dan Indonesia menyatakan: "YA".


Jonathan Schanzer berpendapat, misunderstanding terhadap The West mentriger "alarmed dislike" di kalangan muslim. Terutama sejak kebangkitan militer Eropa (Barat) di abad 17.

Ketakutan Barat (USA) terhadap Islam berakar di sejarah. Perang Salib, dua kali upaya penaklukan Vienna oleh Ottoman Empire, Fatwa Osama bin Laden (1998) yang menyatakam "membunuh orang Amerika dan sekutunya merupakan tugas setiap muslim" dan lain sebagainya menjadi variabel alasan bagi segelintir ekstrimis pro barat memusuhi Islam.

Bagi muslim, crusader dan kolonialisme Eropa (Gold, Glory, Gospel) merupakan bukti itikad jahat menghancurkan peradaban Islam.

Sayyid Qutb yakin bahwa Barat punya skema menggoyang 'Islamic fundamental teachings' dan kolonialisasi Eropa atas tanah-tanah muslim dilandasi spirit krusader.

Menurut Salman Rushdie, klaim adanya "war on Islam" merupakan sikap "paranoid".

George W. Bush (pasca 9/11) dan Barack Obama (pasca San Bernardino attack) menyatakan bahwa Amerika tidak memerangi Islam. Bush 43 bilang USA sedang berperang "against evil" dan "people who have perverted Islam" (Obama).

Kita sulit membedakan gestur dan verbal. Di satu sisi, Trump bersikap antagonis terhadap muslim. Sedangkan The Washington Blade (a gay newspaper) menyatakan "To All Muslims: Trump Does Not Speak For Us."

Sebagai negara muslim terbesar, Indonesia pun mesti berhati-hati. Jangan sampe mulut berkata "ngga anti Islam" tapi perilaku terasa memusuhi Islam. Stop kriminalisasi terhadap ulama.[***]

Penulis Merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak)



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya