Berita

Unjuk rasa di Afghanistan/Reuters

Dunia

Pasca Bom Kabul, Ribuan Warga Afghanistan Desak Pemerintah Mundur

SABTU, 03 JUNI 2017 | 19:27 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Ribuan warga Afghanistan turun ke jalanan ibukota menuntut pengunduran diri pemerintah Afghanistan setelah bom truk yang menghancurkan terjadi pekan ini.

Aksi unjuk rasa berlangsung dengan ricuh di mana terjadi bentrok antara pengunjuk rasa dengan polisi anti huru hara di Kabul.

Akibat bentrok, setidaknya empat orang tewas dan sejumlah orang lainnya luka-luka.


Protes tersebut menambah tekanan pada pemerintahan rapuh dan terbagi oleh Presiden Ashraf Ghani, yang tidak berdaya untuk menghentikan serangkaian serangan di ibukota yang telah membunuh ratusan warga sipil dalam beberapa bulan terakhir.

Serangan bom Rabu, pada awal bulan suci Ramadhan, adalah salah satu yang terburuk di ibukota Afghanistan sejak kampanye pimpinan AS untuk menggulingkan Taliban pada tahun 2001.

Lebih dari 1.000 demonstran, banyak yang membawa foto korban bom, berkumpul di pagi hari di dekat lokasi ledakan tersebut, yang menewaskan lebih dari 80 orang dan melukai 460 orang. Mereka meminta Ghani dan Chief Executive Abdullah Abdullah bertanggung jawab.

"Masyarakat internasional harus menekan mereka dan memaksa mereka untuk mengundurkan diri," kata Niloofar Nilgoon, salah satu dari sejumlah besar wanita yang mengambil bagian dalam demonstrasi tersebut.

"Mereka tidak mampu memimpin negara ini," sambungnya seperti dimuat Reuters.

Pengunjuk rasa juga membawa spanduk bertuliskan slogan seperti "Ghani! Abdullah! Mengundurkan Diri!" Dan foto-foto Ghani dan pemimpin lainnya dengan wajah mereka dicoret.

Polisi anti huru hara menggunakan meriam air dan gas air mata untuk memblokir pemrotes agar tidak sampai ke jalan menuju istana kepresidenan. Terdengar semburan tembakan yang teratur saat mereka menembaki kepala kerumunan, banyak di antaranya melemparkan batu ke pasukan keamanan.

Sebuah pernyataan dari kantor Ghani mengulangi kecamannya atas serangan hari Rabu dan mendesak demonstran untuk tidak membiarkan oportunis mengganggu gerakan sipil mereka dan menggunakan kesempatan ini untuk menabur kekacauan demi keuntungan mereka sendiri. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya