Berita

Donald Trump/Reuters

Dunia

Trump Salah Memahami Penelitian Iklim MIT

SABTU, 03 JUNI 2017 | 18:15 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sejumlah pakar dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sangat salah memahami penelitian mereka saat dia mengutipnya pada hari Kamis kemarin untuk membenarkan penarikan AS dari Perjanjian Iklim Paris.

Trump mengumumkan dalam sebuah pidato di White House Rose Garden bahwa dia telah memutuskan untuk menarik diri dari kesepakatan iklim yang bersejarah. Salah satu alasannya adalah karena tidak akan mengurangi suhu global yang cukup cepat untuk memiliki dampak signifikan.

"Bahkan jika Perjanjian Paris dilaksanakan secara penuh, dengan kepatuhan total dari semua negara, diperkirakan hanya akan menghasilkan dua per sepuluh derajat Celcius pengurangan suhu global pada tahun 2100," kata Trump.


"Kecil, kecil jumlahnya," sambung Trump.

Klaim tersebut dikaitkan dengan penelitian yang dilakukan oleh MIT, menurut dokumen Gedung Putih yang dilihat oleh Reuters. Cambridge, universitas riset berbasis Massaschusetts menerbitkan sebuah studi pada bulan April 2016 berjudul "Berapa banyak perbedaan yang akan dicapai Perjanjian Paris?" Menunjukkan bahwa jika negara mematuhi janji mereka dalam kesepakatan tersebut, pemanasan global akan melambat antara 0,6 derajat dan 1,1 derajat Celsius pada tahun 2100.

"Kami tentu saja tidak mendukung penarikan AS. dari kesepakatan Paris," kata Erwan Monier, seorang peneliti utama di Program Bersama MIT mengenai Ilmu Pengetahuan dan Kebijakan Perubahan Global, dan salah satu penulis studi tersebut

"Jika kita tidak melakukan apapun, kita bisa membuat lebih dari 5 derajat atau lebih dan itu akan menjadi bencana besar," kata John Reilly, co-director dari program tersebut, menambahkan bahwa para ilmuwan MIT tidak memiliki kontak dengan Gedung Putih dan Tidak ditawari kesempatan untuk menjelaskan pekerjaan mereka.

Kesepakatan Paris, yang dicapai oleh hampir 200 negara pada tahun 2015, dimaksudkan untuk membatasi pemanasan global hingga 2 derajat atau kurang pada tahun 2100, terutama melalui janji negara untuk mengurangi karbon dioksida dan emisi lainnya dari pembakaran bahan bakar fosil.

Di bawah pakta tersebut, Amerika Serikat sebagai penghasil karbon terbesar kedua di dunia telah berkomitmen untuk mengurangi emisinya hingga 26 persen menjadi 28 persen dari tingkat tahun 2005 pada tahun 2025. [mel]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya