Berita

Rudiantara/net

Politik

Advokat Muda: Menkominfo Abai Dalam Penanggulangan Hoax Di Medsos

SENIN, 29 MEI 2017 | 20:25 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, dinilai kurang berperan dalam mengatasi virus hoax dan ujaran kebencian bernuansa suku agama ras dan antar golongan (SARA) di media sosial.

Sekjen Aliansi Advokat Muda Indonesia (AAMI), Sabar Daniel Hutahaean, menilai, Kemenkominfo selama ini terkesan hanya memperhatikan sektor bisnis, seperti soal interkoneksi dan jaringan internet. Peran Kominfo dalam ranah pengawasan terhadap medsos seolah terabaikan.

"Padahal, jika diperhatikan, kondisi sosial masyarakat yang hampir mengalami perpecahan sangat dipengaruhi oleh opini atau berita-berita yang beredar di medsos tersebut," kata Sabar, dalam keterangan persnya (Senin, 29/5).


Bahkan, menurut dia, akibat fungsi pengawasan terhadap opini dan informasi di medsos yang tidak berjalan, Pemerintahan Jokowi-JK mengalami degradasi moril. Sebab, hate speech yang berbau SARA terhadap pemerintah beredar bebas di medsos.

Lanjut Sabar, akibat pengawasan Kemenkominfo yang lemah, medsos jadi lahan subur bagi perkembangan paham-paham radikal. Hasilnya, deretan teror bom terjadi di Indonesia akhir-akhir ini.

"Sikap Kominfo ini perlu dipertanyakan. Sebab, di beberapa negara luar yang mengalami sistuasi yang sama dengan Indonesia, sikap pemerintah berani mengambil tindakan tegas. Sebutlah China, Iran yang bahkan tegas melarang jejaring sosial seperti FB, Twitter, beroperasi di negaranya," ucapnya.

Namun ia juga menyadari hak azasi manusia, khususnya yang terkait kebebasan berpendapat. Tapi kebebasan itu pun tentu punya batasan, karena itu dibutuhkan peran Kemenkominfo agar media sosial tidak dijadikan alat memecah belah bangsa. Dalam kaitan ini, Presiden selaku atasan Menkominfo harus mengambil sikap atas ketidakmampuan menterinya menanggulangi persoalan tersebut.

"Presiden harus segera turun tangan dan melakukan evalusi kinerja Menteri Komunikasi dan Informatika yang punya tanggung jawab atas pengawasan terhadap informasi yang beredar di media sosial," tegasnya.

Dia ingatkan, kerusuhan di Suriah, Libya, Mesir dan beberapa negara Timur Tengah lainnya berawal dari pengabain pemerintah dalam pengawasan medsos. [ald]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Pasar Jaya Minta Maaf soal Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati

Minggu, 29 Maret 2026 | 00:01

BRIN Gandeng UAG University Kolaborasi Perkuat Talenta Peneliti Indonesia

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:40

Masyarakat Apresiasi Bazar dan Hiburan Rakyat di Monas

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:30

Menata Ulang Skema Konsesi Bandara

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:00

Tak Bisa Asal Gugat, Sengketa Partai Harus Selesai di Internal Dulu

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:41

Peradilan Militer Punya Legitimasi dan Tak Bisa Dipisahkan dari Sistem

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:21

Pasar Murah di Monas, Pemerintah Salurkan Ratusan Ribu Paket Sembako

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:05

Juara Hafalan Al-Quran di Lybia, Pratu Nawawi Terima Kenaikan Pangkat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:41

Rudal Israel Hantam Mobil Pers, Fatima Ftouni Jurnalis Al Mayadeen Gugur

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:37

DPR Optimistis Diplomasi Pemerintah Amankan Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:17

Selengkapnya