Berita

Theresa May dan Trump/The Guardian

Global

PM Inggris: Melawan Teror Bukan Lagi Di Medan Perang, Tapi Di Internet

JUMAT, 26 MEI 2017 | 16:33 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Perdana Menteri Inggris Theresa May mendesak pemimpin G7 untuk mendesak perusahaan teknologi untuk memberikan kontribusi lebih besar untuk menekan konten ekstremis secara online.

May menyebut bahwa perang melawan kelompok militan ISIS saat ini bergeser dari medan perang ke internet.

May akan mengangkat isu tersebut dalam momen KTT di Sisilia hari ini (Jumat, 26/5).


May menilai bahwa setiap negara harus mendorong perusahaan seperti Facebook, Google dan Twitter untuk memblokir pengguna yang mengirim konten ekstremis dan melaporkan individu kepada pihak berwenang jika ada bukti yang akan segera terjadi.

Ia pun percaya bahwa kerja sama antara negara-negara industri besar dapat membantu memaksa perusahaan media sosial untuk melakukan sejumlah langkah lebih seperti mengembangkan alat yang secara otomatis mengidentifikasi dan menghapus bahan berbahaya berdasarkan apa yang dikandungnya dan yang memasangnya, juga bisa memberitahu pihak berwenang bila bahan berbahaya diidentifikasi sehingga tindakan dapat dilakukan, dan merevisi kondisi dan pedoman industri untuk membuat mereka benar-benar jelas tentang apa yang merupakan bahan berbahaya.

"Banyak ahli, termasuk para profesional di dinas intelijen dan keamanan kami, telah menunjuk pada hubungan antara perang yang didukung pemerintah atau bertempur di negara lain dan terorisme di sini, di rumah," kata May seperti dimuat The Guardian.

"Kita harus cukup berani untuk mengakui bahwa perang melawan teror sama sekali tidak berjalan. Kami membutuhkan cara cerdas untuk mengurangi ancaman dari negara-negara yang memelihara teroris dan menghasilkan terorisme," tegasnya. [mel]

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya