Berita

Montenegro/The Guardian

Dunia

Montenegro Gabung NATO Di Tengah Luka Masa Lalu

KAMIS, 25 MEI 2017 | 20:02 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Front Demokratik, sebuah aliansi partai yang menentang keanggotaan Montenegro dari NATO, menerbangkan bendera Rusia raksasa dari balkon atas markas merah-putih di Podgorica pekan ini.

Langkah Montenegro untuk bergabung dengan NATO merupakan pilihan yang mencolok mengingat dua pemimpin partai tersebut telah kehilangan kekebalan parlemen dan dituntut untuk menggulingkan pemerintah di sebuah plot yang diduga didukung oleh Rusia.

Tapi itu juga menunjukkan perpecahan mendalam yang berlanjut karena negara Balkan tersebut disambut sebagai anggota ke-29 aliansi tersebut dan menghadiri pertemuan puncak pertamanya pada hari Kamis (25/5).


Padahal, baru 18 tahun yang lalu, pesawat NATO mengebom target di Montenegro, yang merupakan bagian dari sebuah republik federal dengan Serbia, dalam sebuah kampanye yang memaksa pasukan Slobodan Miloševi keluar dari Kosovo.

Pemboman tersebut tetap menjadi kenangan yang menyakitkan bagi banyak warga Montenegro.

"Pemboman sebuah negara di jantung Eropa pada akhir abad ke-20 bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan masyarakat internasional," kata Perdana Menteri Montenegro Milo Đukanović.

"Tapi hal terakhir yang seharusnya terjadi pada kita di Balkan adalah bahwa, karena episode ini kita lupa apa saja jalur strategis yang perlu kita kejar," sambungnya,

Banyak yang berharap keanggotaan NATO akan mengakhiri perjuangan timur-barat yang hiruk-pikuk dalam politik Montenegro, namun tidak sedikit pula yang berada dalam posisi bertentangan,

Partai Demokratik Sosialis yang berkuasa (DPS) hampir tidak mengumpulkan cukup suara untuk meratifikasi perjanjian aksesi NATO, dan pihak oposisi telah berjanji untuk melakukan referendum untuk mempertimbangkan kembali keanggotaan jika berkuasa.

Pemimpin oposisi bahkan terus melakukan perjalanan ke Moskow.

"Rusia akan terus menekan dan mencoba mempengaruhi proses politik di Montenegro," kata analis politik Zlatko Vujović.

"Mereka akan memiliki dampak yang kurang dari sebelumnya karena kekuatan oposisi tidak begitu kuat tapi saya pikir mereka akan terus menekan partai politik oposisi," sambungnya seperti dimuat The Guardian. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya