Berita

Foto/Net

Bisnis

BPK Beberin Kejanggalan Laporan Pengadaan Kapal

Kementerian Menteri Susi Kena Disclaimer
SELASA, 23 MEI 2017 | 09:49 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kinerja laporan keuangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tidak secerah prestasi mereka dalam memberantas pencurian ikan. Prestasi empat tahun berturut-turut mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) tidak mampu mereka pertahankan. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan kejanggalan laporan pengadaan kapal.

BPK memberikan opini dis­claimer atau Tidak Memberikan Pendapat (TMP) atas laporan keuangan tahun 2016.

Ketua BPK Moermahadi Soerja Djanegara menerang­kan, salah satu alasan pihaknya tidak memberikan opini atas laporan keuangan kepada KKP karena dari hasil pemeriksaan, ada masalah terkait pengadaan 750 kapal untuk para nelayan. Menurutnya, berdasarkan aturan, pengadaan itu selesai sesuai tahun buku yaitu pada 31 Desem­ber 2016. Namun, prosesnya ternyata hanya merampungkan 48 kapal.


"Pengadaannya kemudian diperpanjang hingga Maret 2017. Sementara itu anggaran senilai Rp 209 miliar untuk pengadaan ba­rang tersebut sudah keluar. Ada masalah pada Berita Acara Serah Terima (BAST)," ungkap Moer­mahadi di Jakarta, kemarin.

Untuk memperpanjang pengadaan barang, lanjutnya, ada syarat yang harus dipenuhi seperti harus ada BAST. Tapi, proses administrasinya belum selesai. "Para auditor BPK menemukan adanya ketidak­sesuaian dalam pertanggung­jawaban pengadaan kapal-kapal tersebut," tegasnya.

Namun demikian, Moer­mahadi menekankan, sampai saat ini auditor belum masuk ke tataran dugaan penggunaan laporan fiktif terhadap dana yang telah keluar. Jika BAST sudah diserahkan, menurutnya, pemeriksaan lanjutan mungkin tidak diperlukan.

Moermahadi meminta, prestasi atas kinerja Menteri Susi harus dipisahkan dengan akuntabilitas terkait laporan keuangan di ke­menteriannya.

Jangan Senang Dulu

Ketua BPK Moermahadi me­minta, pemerintah tidak cepat puas telah mendapatkan laporan WTP. "Opini bisa naik turun nggak bisa diprediksi, kalau nanti ada sesuatu yang di luar kendali juga berarti bisa turun juga," ujarnya.

Dia menuturkan, hasil audit tersebut opini hanya meng­gambarkan posisi di satu tahun anggaran tersebut. Sedangkan, hasil audit ke depan sangat ber­gantung pada pengelolaan sistem keuangan pemerintah.

Walau begitu, Moermahadi memuji capaian tersebut. Karena, hasil audit tersebut juga menunjukkan bahwa pemerintah menindaklanjuti rekomendasi permasalahan dari opini wajar dengan pengecualian (WDP) pada LKPP 2015.

Moermahadi menjelaskan, dalam melakukan audit LKPP, BPK mengacu kepada empat poin utama. Pertama, yaitu pe­nyajian laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan. Kedua, pengung­kapan bukti-bukti pembelanjaan anggaran yang memadai. Ke­tiga, sistem pengendalian inter­nal yang baik. Dan, keempat, ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, opini WTP atas LKPP 2016 dapat menjadi momen­tum untuk terus meningkatkan akuntabilitas. Karena dengan se­makin transparannya keuangan negara akan membawa manfaat untuk masyarakat.

Dia meminta agar jajaran Kementerian Keuangan tidak berlebihan dalam menyikapi opini wajar yang baru pertama kali disematkan kepada laporan keuangan negara dalam 12 tahun terakhir. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya