Berita

Net

Hukum

Polisi Harus Usut Sumber Dana Aksi Ahokers

SABTU, 13 MEI 2017 | 21:38 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Maraknya aksi pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di seluruh Indonesia sudah sangat meresahkan masyarakat. Aksi protes yang digelar para Ahokers beberapa kali sampai melakukan tindakan anarkis dan pelanggaran hukum.

"Beberapa hari lalu aksi Ahokers melanggar aturan penyampaian pendapat di muka umum melebihi waktu yang ditetapkan. Selain itu, mereka juga melanggar penyampaian pendapat di muka umum di hari libur, yang sangat kita sesalkan mereka sempat menyandera staf pengadilan. Terakhir kita saksikan pula demo penolakan rombongan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dengan membawa senjata tajam," ujar Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) Bastian P. Simanjuntak kepada redaksi, Sabtu (13/5).

Dia menilai, pihak kepolisian tidak serius menangani pelanggaran-pelanggaran tersebut bahkan cenderung membiarkannya. .Geprindo menilai ada aktor intelektual di belakang aksi-aksi yang digelar Ahokers di berbagai daerah, yang menggerakkan sekaligus membiayai. Karenanya, Polri perlu melakukan audit dana aksi yang dilakukan Ahokers.


"Hal itu perlu dilakukan agar tidak muncul berbagai spekulasi dan polemik yang akan memperkeruh suasana. Polri juga harus menindak tegas korlap aksi yang melanggar aturan penyampaian aspirasi, baik yang terkait batas waktu, hari libur maupun yang membawa senjata tajam," jelas Bastian.

Bila polisi tidak melakukan tindakan tegas maka akan muncul stigma bahwa telah melakukan tebang pilih. Berkaca dari Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016 lalu yang sumber pendanaannya kemudian diaudit, juga aksi petani di Majalengka yang menolak pembangunan bandara ditangkapi karena membawa ketapel dan senjata tajam.

"Ketegasan polri dengan sendirinya akan menjadikan hukum dan penegak hukum dihormati warga negara. Geprindo menilai wajar bila Polri bertindak tegas karena negara kita merupakan negara hukum. Setiap warga negara wajib taat hukum," kata Bastian.

Untuk itu, Geprindo mengimbau seluruh rakyat Indonesia taat hukum, tidak melakukan tindakan kontra produktif.

"Semua pihak diharapkan dapat menahan diri demi kepentingan nasional," demikian Bastian. [wah]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya