Berita

Politik

Pasca Rosi

SABTU, 06 MEI 2017 | 08:56 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

HENDARDI, Imparsial dan Todung memang segaris. Warnanya serupa. Rada-rada kiri. Sama-sama prohok.

Dulu, mereka galak. Pro rakyat. Bela aktivis yang dituduh makar. Sekarang, Djoko Edhi mensinyalir Hendardi adalah orangnya Tito. Masuk akal, setelah Hendardi menurunkan mutunya. Berkomentar asal soal Panglima TNI dan makar.

Jadilah Hendardi masuk kategori komentator abal-abal. Bukan lawyer. Bukan pengamat. Apalagi aktivis. Komprador dan "antek" lebih tepat disematkan ke dada Hendardi.


Aneh ya, Hendardi seolah enggak ikuti berita. Kasus makar 2 Desember tidak terbukti. Malah sebaliknya, Sri Bintang menggugat Tito dan Iwan Bule ke Mahkamah Internasional yang biasa gelar pengadilan genosida dan HAM Berat.

Aksi Bela Islam berkali-kali dirilis. Diikuti jutaan mujahid. Pengumpulan massa termasif sepanjang sejarah Indonesia modern. Rezim Joko tidak rontok. Karena memang, bukan gerakan politik. Apalagi makar.

Panglima Gatot Nurmantyo benar. Saya refresh ingatan Hendardi. Aksi Bela Islam merupakan suara menuntut keadilan hukum. Jangankan rezim, setangkai tanaman di depan Balai Kota pun tidak dirusak.

Aksi Bela Islam, sampai aksi 5 Mei, tidak pernah bersifat ofensif. Kalah beringas dengan seorang Daniel Maukar.

Rabu 9 Maret 1960, sekitar jam 9.00 pagi, Daniel Maukar membombardir Istana Merdeka. Gunakan pesawat tempur Mig-17. Kursi presiden hancur kena bomnya. Maukar divonis hukuman mati. Dia tolak minta maaf kepada Bung Karno. Itu baru makar.

Tapi, Bung Karno malah senang. Vonis mati dicabut. "Aku suka anak ini. Ia masih muda dan punya masa depan," ujar Bung Karno.

Nah, begitu contoh kebesaran jiwa seorang negarawan. Seorang patriot. Benar dikatakan benar. Salah dikatakan salah. Eggak cengeng. Dikit-dikit makar. Dikit-dikit reshuffle dan mutasi.

Komentator freelance dan amatiran, berhentilah merusak Presiden Jokowi. Hentikan bisikan ngaco anda. Stop adu domba antara presiden dengan rakyatnya sendiri. Rakyat masih butuh TNI di bawah kepemimpinan Jenderal Gatot Nurmantyo.

Penulis adalah aktivis Komunitas Tiongha Anti Korupsi (Komtak)

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya