Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Lucu, BBM Indonesia Tak Lulus Kategori 1 Tapi Harga Jual Pakai Standar Dunia

JUMAT, 05 MEI 2017 | 13:38 WIB | LAPORAN:

Awal bulan Januari 2017 lalu, Pertamina menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yaitu Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamax DEX.

Adapun untuk jenis BBM Premium dan Bio Solar tetap dengan harga yang sama.

Sekjen Pro Demokrasi, Satyo Purwanto menyayangkan kenaikkan harga BBM tersebut tidak diimbangi dengan kualitasnya. Terlebih sejak 2005, kandungan timbal BBM di Indonesia masuk kategori sangat tinggi, di atas negara Asia Pasifik lain.


"Dengan kualitas BBM kita sangat buruk, kadar belerang tinggi, hal ini bisa merusak mesin dengan kata lain kalau kita gunakan BBM jelek, imbas lainnya kualitas udara buruk. Kondisi ini tidak berubah sampai sekarang,'' terang Satyo melalui pesan whatsappnya kepada redaksi, Jumat (5/5).

Bukan hanya itu seperti diketahui premium di Indonesia adalah RON 88 dan solar kualitas 48. Bandingkan dengan mayoritas negara di luar negeri kini menggunakan premium RON 92. Bahkan sejak 2007, pemerintah meratifikasi aturan yang memaksa industri otomotif menggunakan mesin euro 2 dan tidak boleh bahan bakar bertimbal.

"Yang sangat mengherankan mengapa pejabat Kementerian Keuangan dan Pertamina berkali-kali membandingkan harga BBM dan menyebutnya lebih murah dari negara lain, padahal kualitas oktannya lebih tinggi," jelasnya.

Satyo pun mencontohkan, seperti di Singapura, Amerika, atau Malaysia, memang harganya lebih mahal, tapi jangan dilupakan punya kualitas lebih tinggi. Sebaliknya, premium dan solar di Indonesia dalam piagam kualitas bahan bakar dunia tidak lulus kategori 1.

"Dengan kata lain, BBM kita tidak bisa dibandingkan," ujarnya.

Dengan kualitas BBM buruk, menurut dia, patut dicurigai jika harga jualnya disamakan dengan standar harga dunia, seperti indeks harga minyak Singapura (MOPS). Pemerintah harus membeberkan dulu biaya produksi premium. Pasalnya, ada indikasi pemberian subsidi pemerintah selama ini tidak murni untuk kepentingan rakyat, melainkan semata mendongkrak profit margin Pertamina.

"Buktinya, pemerintah membiarkan konsumen menggunakan BBM berkualitas buruk," tegasnya.

Kalau pemerintah ingin menetapkan BBM subsidi, kata Satyo, lebih baik berdasarkan harga pokok produksinya, bukan berdasarkan harga internasional. Jika itu dilakukan maka akan ditemukan biaya riil BBM yang pantas dibayar masyarakat.

"Jangan Pertamina mengeruk untung saja dari keringat rakyat, tapi tidak memperhatikan aspek kesehatan dan keberpihakan kepada masyarakat," kritik Satyo.[wid] 

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya