Jakarta adalah barometer Indonesia dengan keragaman suku, agama, budaya dan etnis di dalamnya.
Pesta demokrasi Pilkada DKI Jakarta 2017 yang seharusnya menjadi bagian dari proses pendewasaan politik warga Ibukota kini cenderung menjadi ajang pemecah persatuan dan persaudaraan warga Jakarta.
Salah satu faktor utama yang mendorong hal demikian terjadi di pesta demokrasi adalah pesatnya perkembangan teknologi digital yang otomatis mentransformasi informasi dengan sangat cepat, namun sulit dideteksi dan dibendung.
Sebagai salah satu pilar demokrasi, netralitas media diperlukan sebagai filter dari kegaduhan informasi dan hoax di masyarakat terutama di sosial media.
Ketua Dewan Kehormatan PWI Jaya, Kamsul Hasan menyatakan, banyak faktor yang mempengaruhi kemandirian wartawan di era pers industri saat ini.
"Bukan persoalan mudah untuk mengembalikan khittah wartawan kembali ke relnya. Kebijakan pemilik modal dan framing redaksi bisa mempengaruhi karya jurnalistik wartawan." ujar Kamsul dalam diskusi media 'Jurnalis Back to Khittah' & Deklarasi Jurnalis Damai untuk Pilkada Damai, di gedung rektorat lama lantai 3 kampus Universitas Indonesia Salemba, Jakarta Pusat, kemarin.
Masih menurut Kamsul Hasan, insan pers harus tetap berkomitmen untuk melaksanakan tugas jurnalistik sesuai kode etik dan UU Pers.
Kamsul menegaskan, netralitas media menjadi hal yang sangat penting dalam proses demokrasi termasuk pelaksanaan Pilkada agar pers tidak menjadi alat kepentingan politik akan tetapi mengedepankan kepentingan masyarakat. Salah satunya dengan menghadirkan pemberitaan yang akurat dan berimbang.
Dalam kesempatan yang sama, Arief Hardono selaku ketua umum Ikatan Alumni UI meyakini, jika pers tidak kembali pada khittahnya, sama saja menyerahkan demokrasi pada hutan belantara dunia maya yang bebas aturan dan bebas nilai.
"Itu alasan kenapa Iluni mendukung upaya rekan-rekan jurnalis dalam deklarasi jurnalis damai, yang memang sejalan dengan program Kawal Pilkada ILUNI dalam rangka mengawal pelaksanaan Pilkada Jakarta yang demokratis, damai dan mengedepankan kepentingan masyarakat Jakarta," tutur Arief.
Sementara tokoh pers, Wina Armada berpendapat jurnalis adalah pemilik saham negeri ini sehingga peran pers sangat penting untuk menjaga kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dipaparkan Wina, di masa-masa ke depan kalangan pers harus meningkatkan kompetensi termasuk mengikuti perkembangan teknologi sesuai kemajuan zaman.
Ikut berkumpul pada acara Diskusi Media dan Deklarasi Jurnalis Damai untuk Pilkada Damai yaitu Komunitas Jurnalis Radio, Pewarta Foto Indonesia Jakarta, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Jakarta Raya, Poros Wartawan Jakarta, Jurnalis Media Online, dan Iluni.
Dengan menghadirkan empat pembicara, yaitu Kamsul Hasan (Ketua Dewan Kehormatan PWI Jaya), Fajar Kurniawan (Ketua IJTI Jakarta Raya), Budi Santoso (Pemred Okezone.com), dan Armada (Tokoh Pers/Iluni).
Acara ditutup dengan Deklarasi Jurnalis Damai Untuk Pilkada Damai oleh perwakilan Ikatan Jurnalis dan tokoh pers.
[wid]Â