Berita

Masjid Daan Mogot/Net

Politik

Peresmian Masjid Daan Mogot Berpotensi Langgar Masa Tenang

RABU, 12 APRIL 2017 | 13:14 WIB | OLEH: UBEDILAH BADRUN

JIKA tidak ada aral melintang Presiden Joko Widodo akan meresmikan Masjid Raya Daan Mogot pada Minggu, 16 April 2017 mendatang. Masjid yang dibangun atas ide Jokowi pada saat Iedul Adha 2012 itu hampir rampung dibuat.

Apakah Ahok-Djarot akan hadir?

Kehadiran Ahok-Djarot pada 16 April bisa saja terjadi karena Ahok-Djarot pada 16 April tersebut sudah aktif kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta setelah menjalani masa kampanye putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017.


Problemnya adalah meski Ahok-Djarot sudah aktif kembali yang memungkinkan hadir, pada mereka masih melekat sebagai calon gubernur dan wakil gubernur untuk periode 2017-2022. Kehadiran keduanya pada momentum seremoni yang dihadiri Presiden akan menjadi sorotan publik yang bisa memberi efek mirip kampanye, apalagi yang bersangkutan telah menghadapi masalah dalam kasus penistaan agama.

Dalam teori komunikasi politik ini disebut imaging policy atau melakukan pencitraan melalui kebijajan atau dalam posisi sebagai pengambil kebijakan. Pencitraan (imaging) adalah bagian penting dalam tujuan kampanye. Jadi kehadiran Ahok-Djarot pada peresmian masjid tersebut dapat ditafsirkan diselimuti motif kampanye, apalagi waktu peresmiannya di hari tenang  tiga hari sebelum hari pencoblosan.

Secara perundang-undangan pemerintahan daerah tidak ada larangan bagi Ahok-Djarot untuk menghadiri sebuah seremoni peresmian oleh Presiden di wilayah kerjanya. Tetapi momentumnya yang direncanakan tiga hari sebelum hari pencoblosan itu menimbulkan pertanyaan publik.

Solusi terbaiknya adalah waktu peresmian masjid sebaiknya ditunda setelah hari pencoblosan yaitu setelah tanggal 19 April agar tidak menimbulkan masalah di masa tenang. Mirip seperti motif penundaan pembacaan dakwaan dalam perkara penistaan agama yang memungkinkan menimbulkan resistensi publik sehingga perlu ditunda. Saya kira solusi penundaan waktu peresmian adalah solusi bijak yang patut di dengar Presiden, sebab sebagai Presiden posisinya dalam momentum pilkada harus tetap bersikap netral. Ini penting untuk menunjukan netralitas Presiden. [***]

Penulis adalah analis sosial politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya