. Sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan Ramadhan. Sebelum memasuki bulan Ramadhan maka hendaknya sifat-sifat saling menjelekkan satu sama lain dan apalagi saling fitnah yang banyak mewarnai kehidupan sudah mulai dihilangkan.
"Apalagi selama Pilkada DKI Jakarta selama ini. Maka tentu saja, meskipun berbeda pilihan dalam Pilkada, tapi tali silaturrahmi tetap harus dijaga," kata Ustadz Djafar Al-Kadiri saat menyampaikan ceramah di hadapan sekitar 15o jamaah yang dilaksanakan PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) di mushalla Darul Husna Cijantung Jakarta Timur (Rabu, 29/3).
Dalam kesempatan ini, ustadz Djafar juga menyinggung banyaknya spanduk yang terpasang di beberapa wilayah dekat masjid dan musholla yang menyerukan larangan untuk menyolati jenazah pendukung salah satu pasangan calon dalam Pilkada. Menurut dia, imbauan seperti ini sudah keliru dan keluar dari koridor moral sebagai sikap orang yang beragama.
Malah Islam, jelasnya, sudah sangat jelas mengatakan, menyolati jenazah seorang muslim hukumnya fardhu kifayah. Hal itu terkait perintah Nabi Muhammad SAW dalam beberapa hadits yang telah menjelaskan terkait hal itu. Menurut riwayat menyebutkan, terdapat dua jenazah yang tidak wajib disholati. Pertama, anak kecil yang belum baligh, Kedua, orang yang gugur fi sabilillah.
"Dalam riwayat Nabi Muhammad juga tidak menshalatkan syuhada perang Uhud. Dan di riwayat lain, Anas Bin Malik mengabarkan bahwa syuhada perang Uhud tidak dimandikan, dan mereka dimakamkan dengan darah-darah mereka, juga tidak dishalati kecuali jenazah Hamzah," Jadi tidak disebutkan orang yang berbeda pilihan politik tidak wajib untuk disholatkan jenazahnya," kata ustadz Djafar.
Sementara itu, Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia Bidang Hubungan Antar Lembaga, Amilan Hatta, menyatakan bahwa kegiatan "Ngaji Kebangsaan" ini akan menjadi program rutin PP Bamusi. Bamusi merupakan organisasi sayap PDI Perjuangan di bawah kepemimpinan Ketua Umum Prof. KH. Hamka Haq dan Sekretaris Umum Nasyirul Falah Amru.
"Ini adalah komitmen PP Bamusi dalam memakmurkan masjid dan menyebarkan syi'ar Islam. Banyak pihak yang menuding bahwa PDI Perjuangan sebagai partai sekuler, saya tegaskan tidak. Baitul Muslimin Indonesia sebagai anak kandung yang sah PDI Perjuangan sangat menjunjung tinggi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam ideologi Pancasila dengan memegang teguh prinsip Islam yang
rahmatan lil alamin," tegas Amilan.
[ysa]