Pemerintah pede ulah kapal MV Celedonian Sky tidak mempengaruhi minat turis asing ke Raja Ampat, Papua. Pasalnya, kerusakan terumbu karang sangat kecil, di bawah 1 persen.
Menteri Pariwisata (MenÂpar) Arief Yahya optimistis isu kerusakan terumbu karang oleh Kapal Celedonia di Raja Ampat tidak mempengaruhi jumlah turis melancong ke destinasi tersebut.
Dia menjelaskan, sasaran wisatawan ke Raja Ampat berbeda dengan destinasi wisata lainnya. Pemerintah tidak mengejar tarÂget jumlah wisatawan.
"Raja Ampat itu
destination ecoÂtourism, bukan
mass tourism. cÂotourism itu tidak mengejar target jumlah wisatawan seperti massÂtourism, tetapi mengejar kepuaÂsan dan kualitas traveler-nya. Kapasitas ecotourism di-
setting terbatas, ini bagian untuk menÂjaga habitat alamnya, biota dan terumbu karang," terang Arief kepada
Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.
Untuk diketahui, ecotourÂism adalah kegiatan pariwisaÂta berwawasan lingkungan, mengutamakan kelestarian alam. Sedangkan, mass tourÂism adalah kegiatan pariwisata yang bisa menampung banyak wisatawan.
Arief mengungkapkan, untuk menjaga kelestarian alam Raja Ampat, pemerintah akan memÂbuat regulasi untuk melestarikan terumbu karang. "Pemerintah menyadari filosofi, semakin dilestarikan, semakin menseÂjahterakan. Makanya kita sedang siapkan aturannya," katanya.
Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat Yusdi Lamatenggo menÂgungkapkan, sejauh ini jumlah kunjungan ke Raja Ampat, norÂmal. Tidak ada penurunan dan keluhan dari turis. "Pasca isu kerusakan banyak (turis) yang bertanya bagaimana kondisi Raja Ampat. Kami terangkan semua baik-baik saja," kata Yusdi kepada
Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.
Yusdi menjelaskan, kerusaÂkan terumbu karang kecil. Dari Keterangan dari Kementerian Koordinator Bidang KemarÂitiman menyebutkan kerusakan terumbu karang 1,8 hektare. Itu artinya, kerusakan hanya 0,001 persen dari total keseluruhan luas Raja Ampat yang mencapai 178 ribu hektare. "Itu hanya satu titik dari 200 titik diving (penyelaman) yang ada di raja Ampat," terangnya.
Yusdi yakin kunjungan turis ke Raja Ampat ke depan akan terus meningkat. Dari data yang dimilikinya, saat ini rata-rata per tahun kunjungan wisatawan asÂing mencapai 15 ribu orang. SeÂdangkan, turis lokal sekitar 6 ribu orang. ntuk turis asing sebagian besar dari Amerika, Prancis, Australia dan China. SeÂdangkan, turis lokal dari Jakarta, Surabaya, Bandung dan Bali.
Ketua Asosiasi Perusahaan PerÂjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Papua Iwanta Peraning-angin mengamini jumlah kunjanÂgan wisatawan tidak mengalami penurunan. "Walapaun tidak terÂganggu. Kami minta kapal CaleÂdonian Sky harus bertanggung jawab," pintanya.
Dia memastikan kapal terseÂbut melanggar aturan. Karena, kapal dengan berat 4.200 ton seÂharusnya bersandar di Dermaga Waisai. Kalau mau ke teluk, ganti kapal dengan menyewa kaÂpal kecil yang banyak disewakan masyarakat setempat.
Kerusakan 19 Ribu Meter Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar PanÂdjaitan mengungkapkan, dirinya sudah mendapatkan laporan teranyar dari kerusakan terumbu karang di Raja Ampat oleh kapal MV Caledonian Sky.
"Tim sudah pulang dari Raja Ampat. Mereka melaporkan kerusakan terumbu karang ebih dari 19 ribu meter persegi dan memusnahkan lebih dari 13 ribu terumbu karang," ungkap Luhut di Jakarta, Jumat (24/03).
Luhut mengatakan, untuk memulihkan dan memperbaiki kondisi terumbu karang seperti sediakala memerlukan waktu yang cukup lama. Ada beberapa spesies yang memerlukan waktu ratusan tahun untuk bisa tumbuh kembali. Menurutnya, pihaknya sedang menghitung kerugian kerusakan terumbu karang terseÂbut. Selain kerusakan terumbu karang, pemerintah juga menghitung dampak ekonomi dari kejadian tersebut. "Nanti kita akan susun langkah-langkahnya. Kita juga nggak mau bergerak tanpa memiliki data yang lengÂkap, nanti malah jadi salah," pungkasnya. ***