Berita

Foto/Net

Bisnis

Menpar Pede Pelancong Ke Raja Ampat Tetap Tinggi

Kerusakan Terumbu Karang Cuma 0.001 Persen
SENIN, 27 MARET 2017 | 08:35 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah pede ulah kapal MV Celedonian Sky tidak mempengaruhi minat turis asing ke Raja Ampat, Papua. Pasalnya, kerusakan terumbu karang sangat kecil, di bawah 1 persen.

Menteri Pariwisata (Men­par) Arief Yahya optimistis isu kerusakan terumbu karang oleh Kapal Celedonia di Raja Ampat tidak mempengaruhi jumlah turis melancong ke destinasi tersebut.

Dia menjelaskan, sasaran wisatawan ke Raja Ampat berbeda dengan destinasi wisata lainnya. Pemerintah tidak mengejar tar­get jumlah wisatawan.


"Raja Ampat itu destination eco­tourism, bukan mass tourism. c­otourism itu tidak mengejar target jumlah wisatawan seperti mass­tourism, tetapi mengejar kepua­san dan kualitas traveler-nya. Kapasitas ecotourism di-setting terbatas, ini bagian untuk men­jaga habitat alamnya, biota dan terumbu karang," terang Arief kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Untuk diketahui, ecotour­ism adalah kegiatan pariwisa­ta berwawasan lingkungan, mengutamakan kelestarian alam. Sedangkan, mass tour­ism adalah kegiatan pariwisata yang bisa menampung banyak wisatawan.

Arief mengungkapkan, untuk menjaga kelestarian alam Raja Ampat, pemerintah akan mem­buat regulasi untuk melestarikan terumbu karang. "Pemerintah menyadari filosofi, semakin dilestarikan, semakin mense­jahterakan. Makanya kita sedang siapkan aturannya," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat Yusdi Lamatenggo men­gungkapkan, sejauh ini jumlah kunjungan ke Raja Ampat, nor­mal. Tidak ada penurunan dan keluhan dari turis. "Pasca isu kerusakan banyak (turis) yang bertanya bagaimana kondisi Raja Ampat. Kami terangkan semua baik-baik saja," kata Yusdi kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Yusdi menjelaskan, kerusa­kan terumbu karang kecil. Dari Keterangan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemar­itiman menyebutkan kerusakan terumbu karang 1,8 hektare. Itu artinya, kerusakan hanya 0,001 persen dari total keseluruhan luas Raja Ampat yang mencapai 178 ribu hektare. "Itu hanya satu titik dari 200 titik diving (penyelaman) yang ada di raja Ampat," terangnya.

Yusdi yakin kunjungan turis ke Raja Ampat ke depan akan terus meningkat. Dari data yang dimilikinya, saat ini rata-rata per tahun kunjungan wisatawan as­ing mencapai 15 ribu orang. Se­dangkan, turis lokal sekitar 6 ribu orang. ntuk turis asing sebagian besar dari Amerika, Prancis, Australia dan China. Se­dangkan, turis lokal dari Jakarta, Surabaya, Bandung dan Bali.

Ketua Asosiasi Perusahaan Per­jalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Papua Iwanta Peraning-angin mengamini jumlah kunjan­gan wisatawan tidak mengalami penurunan. "Walapaun tidak ter­ganggu. Kami minta kapal Cale­donian Sky harus bertanggung jawab," pintanya.

Dia memastikan kapal terse­but melanggar aturan. Karena, kapal dengan berat 4.200 ton se­harusnya bersandar di Dermaga Waisai. Kalau mau ke teluk, ganti kapal dengan menyewa ka­pal kecil yang banyak disewakan masyarakat setempat.

Kerusakan 19 Ribu Meter

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pan­djaitan mengungkapkan, dirinya sudah mendapatkan laporan teranyar dari kerusakan terumbu karang di Raja Ampat oleh kapal MV Caledonian Sky.

"Tim sudah pulang dari Raja Ampat. Mereka melaporkan kerusakan terumbu karang ebih dari 19 ribu meter persegi dan memusnahkan lebih dari 13 ribu terumbu karang," ungkap Luhut di Jakarta, Jumat (24/03).

Luhut mengatakan, untuk memulihkan dan memperbaiki kondisi terumbu karang seperti sediakala memerlukan waktu yang cukup lama. Ada beberapa spesies yang memerlukan waktu ratusan tahun untuk bisa tumbuh kembali. Menurutnya, pihaknya sedang menghitung kerugian kerusakan terumbu karang terse­but. Selain kerusakan terumbu karang, pemerintah juga menghitung dampak ekonomi dari kejadian tersebut. "Nanti kita akan susun langkah-langkahnya. Kita juga nggak mau bergerak tanpa memiliki data yang leng­kap, nanti malah jadi salah," pungkasnya. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Fuad Bawazier: Kekayaan Alam Indonesia Dikuasai Segelintir Orang

Jumat, 19 Juni 2026 | 22:19

Nanik Deyang Langsung Ditelepon DPR Usai Didemo Mahasiswa

Jumat, 19 Juni 2026 | 22:08

Eks Dirjen Kuathan Emosional Bela Leonardi: Ini Perjuangan Negara

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:53

Koperasi Karyawan Forwarder, Bukan Alat Konflik tapi Jembatan Keseimbangan

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:37

Mahasiswa Bubarkan Diri Usai Bertemu Dasco Cs

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:27

Fuad Bawazier Curiga Ada Penghambat di Lingkaran Istana

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:19

IDEacraft Sulap Produk Dekorasi Rumah Menjadi Peluang Usaha Berkat Pemberdayaan BRI

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:04

DPR Langsung Telepon Bahlil Menjawab Keresahan Mahasiswa

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:35

Jalani Tes Kesehatan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Selangkah Lagi ke Meja Hijau

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:33

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Bukti Jokowi Sakti Mandraguna

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:22

Selengkapnya