Berita

Foto/Net

Wawancara

WAWANCARA

Puji Astuti Santoso: Tersangka Paedofilia Group Facebook Loly Candy's Setiap Hari Diperiksa Polisi

SENIN, 27 MARET 2017 | 08:19 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pejabat Kementerian Sosial ini menceritakan pihaknya se­dang memberi pendampingan terhadap tersangka paedofilia dari grup facebook official loly candy's group yang masih di bawah umur. Dari kasus itu setidaknya ada dua tersangka yang masih di bawah umur, yakni SHDW (16), pelajar SMK di Tangerang, dan DF alias T-Day. Berikut penuturannya;

Saat ini bagaimana kondisi SHDW dan DF selama ditan­gani Kemensos?
Jadi Polda Metro Jaya itu merujuk SHDW dan DF ke tempat kita, karena masih proses hukum. Pada saat ini, statusnya masih diduga pelaku, namun karena Kepolisian tidak punya tempat penahanan anak, maka dititipkan di kami. Jadi dirujuk sementara di kami. Tapi kami tetap memenuhi kebutuhannya, sandang, pangan dan lainnya.

Rujukan Kepolisian itu sam­pai kapan?

Rujukan Kepolisian itu sam­pai kapan?
Tidak tahu. Itu Kepolisian. Karena setiap hari (mereka) di­jemput jam 12 siang dan pulang jam 12 malam. Karena untuk menelusuri 7.000 (konten video dan foto), mungkin butuh waktu lama sekali. Sebab kan kalau di medsos itu ada nama palsu. Sehingga mereka terus bolak-ba­lik untuk diperiksa Kepolisian.

Selama tinggal di tempat rujukan bagaimana sikap SHDW dan DF selama ini?

Normal. Anaknya normal seperti anak seumuran. Jadi keduanya ikut kegiatan di kami juga kita samakan keduanya dengan anak-anak yang lainnya.

Apakah anak-anak lain yang menghuni tempat peni­tipan itu tahu kalau SHDW dan DF itu pelaku kejahatan seksual kepada anak?
Anak-anak yang lain tidak tahu kasus itu. Karena kami mengutamakan menjaga keraha­sian. Jadi mereka yang tinggal di sana itu satu sama lainnya tidak saling tahu. Karena dengan begitu mereka akan cepat move on, percaya diri, kalau temannya tidak tahu kasusnya.

Mereka ditempatkan di mana sih?
Ada di suatu tempat rahasi yang kami tidak bisa katakan.

Terus metode apa yang di­gunakan Kemensos dalam merehabilitasi pelaku maupun korban kejahatan seksual?
Nanti kita lihat, itu tergantung dengan assement-nya. Semua anak berbeda-beda. Mungkin ada anak yang tidak diperlakukan seperti itu. Mungkin ada anak yang merasa tidak trauma,mungkin ada anak yang merasa biasa saja.

Apa ada pelaku paedofilia yang awalnya merupakan korban?
Kita ketahui dari kasus-ka­sus sebelumnya, seperti kasus Emon. Ini rentan sekali, ini kan juga pelaku yang dititipkan di kami. Ini sudah dilakukan assesment dan dia mengakui bahwa dia pernah diperlaku­kan seperti itu. Jadi ini yang seharusnya pemerintah lakukan bersama-sama, bagaimana men­cari solusi pendampingan yang mungkin tidak hanya sebulan, dua bulan atau setahun, dua tahun. Tapi continue sampai dia bisa bersosial.

Lantas apa yang mesti di­lakukan agar para korban paedofilia ini tidak menjadi pelaku dikemudian hari?
Itu ada ahli-ahlinya. Kita punya psikolog dan kita juga tahu di Indonesia banyak ahli-ahlinya. Tapi yang utama ialah kemauan dari si anak itu sendiri. Itu yang paling utama dan didu­kung dari keluarganya, orang tuanya dan masyarakat.

Dia punya keinginan untuk bebas dari kasus tersebut atau perasaan yang tidak menyenang­kan itu,tetapi kalau keluarganya tidak mendukung, masyarakat tidak mendukung, maka dia akan down.

Lalu apakah Kemensos men­jamin akan memberikan pro­gram rehabilitasi terbaik bagi anak yang menjadi pelaku atau pun korban paedofilia?

Sudah tentu kami tidak akan sendirian. Jika jumlahnya ban­yak, kami akan melibatkan pihak-pihak terkait, stakeholder.

Dari mana saja itu?

Pihak akademisi, rumah sakit, LSM. Kita juga masih memiliki kurangnya SDM. Tetapi kita juga sudah menyiapkan konsuler-konsuler seperti yang diucapkan ibu menteri, kami juga ada rumah perlindungan sosial yang tersebar di seluruh Indonesia dan ada juga lembaga kesehatan sosial anak, kita juga bisa kerjasama dengan pesantren.

Rehabilitasi harus dilaku­kan di tempat khusus?
Tidak mesti dilakukan di rumah perlindungan anak, tetapi tetap di keluarganya, nanti petugas kami yang kerumahnya. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Polda Metro Jaya Ajak Warga Manfaatkan Program Pemutihan Pajak hingga Akhir Agustus

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:11

IIW Indonesia 2026 Dorong Investasi dan Kolaborasi Industri Global

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:03

Indonesia dan Madagaskar Teken Dua Perjanjian Strategis

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59

Sah! RUU P2SK Resmi Jadi UU, Purbaya Klaim Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:46

Pergantian Pimpinan BGN Harus Dibarengi Peningkatan Kualitas MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:44

ICW Khawatir Ada Intervensi di Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Proses Penyidikan ke Publik

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:37

Prabowo Pernah Minta BPKP Tak Ragu Usut Orang Dekat Sebelum Dadan Ditangkap

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:25

KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim dan Sejumlah Lokasi Lain

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:09

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Harus Gaul dengan Semua Negara

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:06

Rupiah-IHSG Ambruk, Pengamat: Pasar Lebih Percaya Data, Bukan Pidato Pemerintah

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:51

Selengkapnya