Film Bid'ah Cinta sangat mencerahkan dan dalam film tersebut ada prinsip yang diperjuangkan terkait dengan toleransi dan keanekaragaman. Film garapan Nurman Hakim tersebut sangat mencerahkan karena berhasil mengangkat kesejatian nilai-nilai yang digali dari Indonesia, mengangkat soal bagaimana kekuatan budaya dalam menjaga persatuan.
"Jadi kalau kita lihat, sungguh sangat mencerahakn, terharu, ada prinsip yang diperjuangkan yang itu penting untuk menjadi inspirasi bagi masyarakat sekarang ini," kata Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, dalam konferensi pers usai nonton film tersebut di XXI Plaza Indonesia, Jakarta (Sabtu, 25/3).
Sedianya, Megawati Soekarnoputri dan Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid juga akan nonton bareng film tersebut. Tetapi karena ada suatu kendala, kedua tokoh perempuan Indonesia itu batal hadir untuk nonton bareng.
Selain Hasto dan Djarot Saiful Hidayat, turut hadir dalam acara nobar di XXI Plaza Indonesia antara lain Ketua Fraksi PDI Perjuangan Utut Adianto dan Wakil Ketua Komisi III DPR dari Fraksi PDIP Trimedya Panjaitan. Hadir juga beberapa pemeran utama film tersebut dengan sutradara film, Nurman Hakim.
"Beliau (Megawati Soekarnoputri) dapat info film ini bagus, maka sebagai rasa apresiasi beliau mengundang untuk nobar di sini. Tetapi karena mendadak tidak bisa, maka saya mewakili," kata Hasto.
Senada, Djarot juga mengapresiasi keberhasilan Nurman Hakim dalam mengangkat film tersebut di saat sekarang ada gejala intoleransi di antara masyarakat. Di saat yang sama ada gejala menguatnya radikalisme dan terorisme seperti terjadi di Cilegon.
"Tapi dengan film ini, semua itu akan kalah dengan cinta," ungkapnya.
Sementara sutradara film Nurman Hakim mengatakan, film ini memotret pandangan atau pemahaman agama yang berbeda di kalangan masyarakat.
"Di film ini kita memotret bagaimana perbedaan itu dikelola dengan indah dan hidup berdampingan sebagaimana warna pelangi, beda tapi indah. Beda tapi enggak jadi potensi konfilk," jelasnya.
Film ini menceritakan bagaimana cinta antara Khalida dan Kamal yang terbentur perbedaah pemahaman keagamaan. Kedua orang tuanya juga kemudian ikut terlibat dalam ketegangan tersebut, bahkan hingga merembet ke komunitas masyarakat. Namun pada akhirnya, ada pemahaman dan suatu kesepakatan agar tidak menjadikan perbedaan itu agar tidak menjadi ketegangan dan sepakat untuk saling menghormati. ​
[wah]